Mengumpulkan Informasi

14 07 2009

informasi
Sumber Berita

Sumber berita harus layak dipercaya dan menyebutkan nama sumber tersebut. Sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya merupakan isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan merupakan pelanggaran kode etik. Karenanya berhati-hatilah memilih orang sebagai nara sumber yang akan dikutip atau sebagai bahan penulisan berita.

Sekali memperoleh sumber yang salah maka akan berdampak negative atau menurunnya kepercayaan pemirsa terhadap kredibilitas media dan sumber tersebut. Carilah orang-orang yang benar-benar mengetahui tentang peristiwa yang sedang diliput oleh reporter dan juru kamera.

Mendapatkan sumber yang berbeda dari beberapa orang akan jauh lebih baik ketimbang hanya mendapatkan satu nara sumber. Ini akan menjaga akurasi berita yang dibuat. Orang-orang yang berada di sekitar, terlebih lagi bagi mereka yang terlibat langsung, merupakan informasi yang baik. Sebaliknya, seorang pengamat yang ahli di bidangnya seperti politisi, akademisi, ekonom atau ahli nuklir, meski mereka tak ada di lokasi kejadian dan terlibat langsung, juga merupakan sumber menarik yang dapat ditampilkan atau dicuplik dalam rangkaian dalam rangkaian penulisan berita.

Selain sumber yang langsung terlibat langsung di lokasi kejadian, juga ada beberapa sumber lain yang dapat dijadikan informasi yaitu:

Untuk Berita Internasional

Kantor Berita Surat kabar

Sumber-sumber yang berasal dari kantor berita surat kabar akan sangat membantu dalam memberikan suplai informasi dan latar belakang peristiwa. Tetapi seberapa banyak yang diperlukan, sangat bergantung pada stasiun tv masing-masing.

Baca entri selengkapnya »





Laporan Dengan STAND UP

14 07 2009

STAND UP

Secara sederhana, Stand Up dapat diartikan sebagai laporan reporter dalam keadaan berdiri di depan kamera. Laporan ini umumnya diberikan secara langsung (live report), namun stand up juga dapat disampaikan secara rekaman (taping).
Stand-up penting dilakukan untuk berita-berita besar dan menarik. Langkah ini dapat mengangkat kredibilitas seorang reporter maupun stasiun pemberitaan tv bersangkutan. Di Indonesia, reporter RCTI mendiang Ersa Siregar pernah dikenal sebagai reporter stand upper yang handal. Ia kerap melakukan stand up dari lokasi konflik di Aceh dalam kaitan dengan konflik Aceh dengan GAM. Bahkan nyawanya pun berujung saat liputan.
Stand-up juga biasanya dilakukan apabila reporter tengah meliput di luar negeri. Ini tentu akan memberikan kebanggan tersendiri bagi reporter maupun stasiun Tv yang mengirimkannya. Penonton pasti akan memberi apresiasi tersendiri terhadap penampilan tersebut karena sesuatu yang asing menarik untuk diperhatikan.
Reporter dapat melakukan stand-up di awal atau akhir berita. Bisa juga dua kali, di awal dan akhir berita. Pada akhir berita, reporter mengakhirinya dengan menyebut nama, stasiun tv, serta lokasi tempat melaporkan berita. Misalnya, Peter Arnett, CNN Bagdad, Irak.

PATER
Peter Arnett (CNN) saat Stand Up di Irak

Hasil stand-up tidak boleh cacat. Kalau pada saat merekam stand-up ada yang kurang sempurna harus diulangi hingga sempurna. Oleh karena itu, sebelum melakukan stand-up, reporter harus membuat catatan apa yang akan dikemukakan dan berusaha memahaminya. Pada saat stand-up, reporter jangan terlalu terpaku dengan kalimat-kalimat yang disusun dalam catatan, tetapi upayakan berimprovisasi supaya tidak kaku. Gunakan catatan hanya sebagai landasan berpijak untuk stand-up. Laporan stand-up nantinya akan diolah kembali di mesin editing oleh editor gambar dalam bentuk berita paket (package).

Tujuan dan maksud Stand Up:

• Menunjukkan kredibilitas stasiun tv
• Menunjukkan reporter berada di lokasi kejadian
• Menggantikan visual yang tidak ada
• Sebagai jembatan untuk menunjukkan dua lokasi yang berbeda
• Untuk mengganti nara sumber yang menolak memberi pernyataan di kamera, untuk perimbangan (balancing) berita
• Untuk memperagakan suatu alat
• Sebagai style station, standar penutup laporan

Stand up pada dasarnya adalah menulis di layar, tanpa bantuan alat apapun dari komputer di newsroom. Reporter harus siap membacakan laporan stand up begitu camera siap. Seorang stand-upper yang baik adalah seorang pengingat yang kuat. Ia harus mengingat (hapal) semua catatan berita yang disusun sebelumnya, dan tidak banyak membaca catatan di kertas.

Jangan pernah melakukan stand up dengan hanya membaca naskah jadi yang telah ditulis. Ini akan membuat reporter hanya penghapal naskah, bukan penyampai yang baik. Buat poin-poin laporan dalam kertas, kembangkan dengan frame sendiri yang telah dimiliki.
Lama durasi sebuah laporan stand-up berkisar antara 10 sampai 20 detik. Namun dalam beberapa kasus, laporan dapat saja disampaikan lebih panjang jika sebuah cerita yang kompleks membutuhkan pemaparan rinci, namun tak memiliki gambar yang cukup.

sctv
Reporter SCTV sedang bersiap stand up

Latar belakang laporan juga penting diperhatikan, untuk memberi tahu pemirsa di mana reporter berada. Pemilihan latar belakang lokasi yang pas dapat membentuk kepercayaan pemirsa terhadap laporan yang diberikan reporter. Jika melaporkan kebakaran, akan lebih pas jika latar belakang laporannya ada di depan lokasi kebakaran. Saat unjuk rasa ribuan buruh, lebih baik reporter stand-up di depan ribuan buruh. Hindari latar belakang stand-up yang buruk, seperti tembok, lokasi yang berbeda dengan yang diceritakan

Baca entri selengkapnya »





Esay Listening Formula

14 07 2009

formula

Dalam menulis naskah berita ada beberapa hal yang harus diketahui agar informasi yang ditulis sebagai bahan komentar penyiar atau reporter mudah dipahami oleh pemirsa. Karenanya terdapat pola “Easy Listening Formula”, yakni formula untuk memudahkan mendengar bagi pemirsa.

Formulasi Easy Listening

1. Alur informasi

- Susun laporan dalam alur menulis naskah menyesuaikan gambar atau gambar yang akan menyesuaikan naskah berita.

- Kedua pandangan itu sama benarnya, karena ada argumen yang melatari pandangan tersebut. Karena tv adalah media bergambar, sehingga gambar harus lebih dulu diprioritaskan.

- Sedangkan pendapat lain menyatakan, tugas utama dalam kaporan berita adalah menceritakan peristiwa dan gambar agar mendukung penggambaran peristiwa yang diuraikan di dalam narasi.

- Gambar adalah bahasa yang universal, namun diperlukan komentar agar gambar mudah dipahami.

- Kita bisa ambil contoh: tayangkan sebuah VT peristiwa tanpa narasi, ajak beberapa orang untuk melihatnya. Karena tak ada informasi penyerta, akan ada banyak komentar yang muncul usai melihat gambar tersebut.

- Karenanya gambar harus dilengkapi informasi tertulis yang dibacakan penyiar/ reporter.Namun sebaliknya, berita tanpa gambar akan mudah dipahami pemirsa.

- Walau kedua-duanya dapat ditempuh, sebagian jurnalis tv cenderung menceritakan gambar ketimbang menyesuaikan gambar dengan naskah.

- Namun untuk berita tertentu seperti peristiwa politik, terkadang naskah harus memiliki dimensi pendalaman yang lebih kuat dibandingkan gambar. Ini untuk menyiasati minimnya gambar.

- Apapun itu, dalam membuat sebuah berita tv, jurnalis dituntut tetap melakukan preview gambar dan melihat shotlist (daftar gambar) yang dimiliki atau diambil juru kamera.

- Saat menulis naskah dengan gambar yang disunting lebih dulu, dibutuhkan ketelitian mensinkronkan penempatan waktu dengan kata yang diucap jurnalis di layar. Shotlist dibutuhkan untuk memberikan ide agar memudahkan dalam penulisan naskah.

Baca entri selengkapnya »





Rumus 5C Untuk Penulisan Berita TV

14 07 2009

rumus

MERENCANAKAN PROGRAM BERITA

Sebuah program berita tv memerlukan perencanaan. Dan sebagian besar program berita televisi diselesaikan dalam perencanaan. Berita atau features tidak bisa begitu saja diletakkan di segmen 1,2 atau 3 tanpa penjelasan dan alasan yang kuat.
Seorang jurnalis di newsroom harus memiliki rencana menyeluruh. Harus ada keseimbangan antara berita, laporan, komentar, hiburan dan iklan. Idealnya sebuah program harus terdiri dari beberapa bagian. Mungkin ada beberapa berita umum, nasional, lokal, internasional dan feature. Pembedaan atau rubrikasi dalam program berita ini dilakukan untuk memudahkan pemirsa mendapatkan berita sesuai keinginannya.
Kadangkala ada pemirsa yang menyenangi berita dengan topik tertentu, dan ia hanya melihat berita tersebut. Sementara di pihak lain ada pula pemirsa yang menyenangi berita ringan features, dan biasanya ia hanya melihat program berita di bagian akhirnya saja, karena feature biasa ditempatkan di akhir program.
Pembedaan jenis berita dalam sebuah program berita perlu dilakukan sesuai magnitude berita. Sebuah peristiwa penting akan ditempatkan di awal segmen, sementara berita ringan di akhir segmen. Pembedaan jenis berita, misalnya di segmen 1 berisi berita nasional, segmen 2 berisi berita politik, segmen 3 berita kota, dan segmen 4 berita feature atau berita ringan.

TUJUAN PEMBEDAAN SEGMEN

1 Menarik perhatian pemirsa yang berminat pada kategorisasi berita tertentu.
2 Untuk menandai berbagai berita sesuai tingkat kepentingan tertentu.
3 Untuk memberi ciri program sesuai misi stasiun tv.

HAL PENTING BAGI PEWARTA TV

1 Kebanyakan orang tidak duduk diam saat melihat televisi. Mereka bisa melakukannya sambil melakukan aktivitas lainnya, seperti makan, membaca koran, atau memasak.

2 Oleh karenanya, jurnalis tv harus menciptakan tayangan berita yang menarik dari sisi gambar, naskah, dan isu.

3 Jika tak memiliki gambar yang kuat, setidaknya jurnalis harus memperkuat berita dengan naskah yang dalam dan lengkap. Begitu juga jika gambar dan naskah tidak terlalu kuat, maka isu yang diketengahkan harus kuat, memancing perhatian banyak orang untuk menonton tv.

4 Bila anda menulis berita tv, berarti kita menulis untuk didengar dan ditonton. Para pemirsa bukanlah pembaca koran yang bisa membolak-balikkan halaman koran jika informasi yang dibacanya kurang jelas.

5 Pemirsa hanya diberi kesempatan melihat sekali. Jika ada yang terlewat, maka ia akan tertinggal isu yang ditampilkan.

6 Karenanya, naskah berita tv mengikuti susunan logika tertentu, jadi ada benang merah yang dapat diikuti oleh para pemirsa. Menulis berita tv mirip dengan bercerita atau curhat.

7 Menggunakan kalimat yang pendek
8 Menggunakan bahasa yang lugas dan jelas
9 Hindari kata-kata klise
10 Ulangi fakta-fakta yang rumit
11 Gunakan atribusi waktu yang tepat, untuk membantu menunjukkan kebaruan berita.
12 Sebutkan sumber informasi anda dan kutipan yang menyertainya. Bila menggunakan falta dan angka yang bukan hasil penelitian anda sendiri, sebutkan sumber penelitian itu.

13 Hindari kutipan langsung. Kutipan langsung bisa didengar/dilihat dari synch nara sumber.

14 Sederhanakan angka. Lebih baik menggunakan ”hampir dua juta rupiah” daripada menyebutkan angka Rp. 1.999.990.

15 Tulis angka dengan kata-kata karena mungkin penyiar tidak dapat membacanya ketika dia dalam tekanan di studio. Misalnya US$490,61 tampak mudah dibaca di koran. Untuk tv, lebih baik menuliskan ”empat ratus sembilan puluh koma enam puluh satu dolar amerika”

16 Sebutkan jabatan seseorang di depan namanya. Misalnya Presiden SBY, kapolri jenderal Sutanto, cawapres Jusuf Kalla.

17 Hindari singkatan dan akronim (Uni Eropa lebih baik daripada EU).
18 Konsisten dengan penyebutan jabatan dan istilah.
19 Ulangi jabatan, nama dan konsep.
20 Taruhlah angka statistik yang akan mudah basi di dalam badan cerita dan bukan di pengantar atau cue.

21 Bayangkan pemirsa dari kalangan terbawah. Kira-.kira apakah mereka mengerti isi laporan anda? Jika ternyata masih banyak pertanyaan yang membingungkan, segera ubah cara penulisannya.

RUMUS 5 C UNTUK PENULISAN BERITA TV

Baca entri selengkapnya »





MENYATUKAN BERITA

14 07 2009

Satuan gambar
Berita TV tidak dapat dipisahkan antara audio dan visualnya. Justru kekuatan berita tv adalah perpaduan keduanya. Bagaimana menyatukan keduanya, butuh seni dan ketrampilan tersendiri.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih gambar dari liputan yang telah dilakukan:

- Perhatikan shotlist dengan teliti dan detil
- Susun gambar dalam catatan shotlist secara lengkap dan detil. Penyusunan dalam daftar mempermudah dalam penulisan berita. Hal ini juga berguna saat harus membuat berita secara mendadak, sementara data untuk narasi belum didapat karena tim masih di lapangan.
- Cek shotlist, gambar apa saja yang dimiliki.
Pengecekan stok gambar berguna untuk menyesuaikan persediaan gambar dengan rencana berita yang akan ditulis. Jika gambar lengkap, tentu memudahkan penyusunan berita.

- Perhatikan urut-urutan gambar, apakah ada kontinyuitasnya.
Gambar yang bagus adalah yang memiliki kontinyuitas (runut), ada logika gambar yang jelas, sehingga tidak jamping . Kontinyuitas ini tidak selalu harus berurutan atau kronologis. Tapi juga lengkap dengan detil shot-nya.

- Cek gambar apakah ada gangguan teknis, seperti scratch, cahaya yang under atau over, audio yang tidak keluar.

- Gangguan teknis pada gambar akan mempengaruhi kualitas berita secara keseluruhan. Lihat dulu, apakah gangguan ini tak dapat disiasati, misalnya dengan memotong (mengedit) bagian-bagian tertentu, sehingga gambar masih dapat digunakan menjadi sebuah berita. Jika tidak dapat digunakan harus dipikirkan mencari alternatif lain. Jika beritanya sangat penting, putuskan secepat mungkin menggunakan dokumentasi atau grafis.

- Cek synch atau wawancara
Sebuah wawancara yang bagus akan menjadikan berita tv lebih kuat. Periksa apakah synch cukup baik audionya, cek juga isi synch apakah sesuai dengan rencana semula? Jika tidak, tunda penayangan berita ini dan lengkapi dulu dengan synch yang baik.

Menyunting dan Menyusun Berita

Setelah kembali ke ruang redaksi, reporter dan editor gambar harus bekerja sama untuk merencanakan sebuah laporan berita. Pemikiran reporter tentang apa yang akan mereka tulis terhadap gambar-gambar yang ada dan pemikiran editor tentang gambar mana yang terbaik harus dipadukan ke dalam suatu sequence yang sesuai. Reporter menentukan gambar dan durasi yang diperlukan, sementara editor menitikberatkan pada kelayakan gambar dilihat dari segi komposisi, screen direction, intensitas cahaya, kualitas fokus, dan sebagainya.

Juru kamera hendaknya mencatat daftar gambar (shotlist) terhadap shot gambar yang sudah ia rekam untuk memudahkan penyuntingan berita. Shotlist tersebut kemudian diserahkan kepada reporter untuk dilakukan penentuan urutan gambar sesuai dengan ulasan yang akan mereka lakukan.

Bagian penting dalam tahapan ini adalah seorang reporter harus mengetahui dengan tepat uraian berita yang sedang disusun. Reporter tidak boleh membiarkan uraian naskahnya tidak didukung dengan gambar/ visual. Ia juga tidak boleh terjebak ke dalam sequence gambar yang terlalu panjang untuk sebuah uraian yang ia perlukan dalam menyusun berita. Sebaliknya, reporter juga jangan memanjangkan uraian narasi terhadap sequence gambar yang durasinya terbatas. Ini memerlukan kedisiplinan reporter dalam menulis naskah dan menggunakan gambar sebagai visual sesuai dengan asas sinkronisasi.

Editor harus teguh pendirian untuk menolak apabila gambar yang diminta reporter ternyata tidak layak untuk disiarkan mengingat kualitas cahaya, komposisi maupun alurnya yang tidak memenuhi syarat.

Suntingan dan susunan komentar bergantung pada penjelasan elemen kunci oleh reporter dalam menjawab formula klasik 5W + 1H yakni Who, What, When, Where, Why dan How. Apa yang telah terjadi, siapa yang terlibat, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana peristiwa itu terjadi adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab saat menyusun berita.

Pertimbangan utamanya adalah harus dimulai dari elemen yang sangat penting dan bergantung pada peristiwanya. Selanjutnya harus dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pemirsa televisi. Jadi antara gambar dan komentar harus seimbang. Suntingan dan penulisan yang siap harus betul-betul menarik.
Sebuah berita yang durasinya 1.30 menit misalnya tidak mungkin akan dimasukkan soundbite yang durasinya sampai satu menit atau gambar statis yang lamanya sampai 30 detik lalu selebihnya dimasukkan gambar bergerak yang sangat cepat.

Gambar pembukaan dan penutupan biasanya sedikit lebih lama dibandingkan visual lainnya. Sebuah gambar pembuka yang durasinya paling tidak 5 detik atau lebih akan memberikan waktu yang cukup untuk dapat dipahami oleh pemirsa. Janganlah memulai komentar sebelum gambar berjalan selama 2 detik, karena itu gambar awal paling tidak harus berdurasi sekitar 5 detik. Sama halnya juga terhadap closing (gambar akhir) harus berdurasi paling tidak 5 detik setelah kalimat akhir pada ending berita. Alasannya, agar memperjelas akhir dari komentar untuk memudahkan pengertian pemirsa. Shotlist adalah elemen yang paling penting untuk mempercepat pekerjaan penyusunan gambar.

Urutan daftar gambar akan membantu reporter dalam memudahkan pemberian instruksi kepada editor tentang gambar apa yang ingin ia gunakan dalam paket yang sedang dikerjakan, misalnya Close Up (CU), medium shot (MS), Long Shot (LS) dan lain-lain. Editor juga akan memperoleh kemudahan dengan mengetahui shot lebih awal dari daftar gambar tersebut. Daftar shot gambar tersebut akan memberikan ide yang lebih baik kepada reporter dalam menulis komentar.

Dengan melihat shot gambar yang ada ketika mengumpulkan daftar shot untuk penyusunan berita, reporter punya kesempatan memilih shot-shot menarik yang bisa dipergunakan nantinya. Misalnya, ekspresi wajah, kerumunan orang, sikap orang dan lain-lain. Editor gambar juga akan dengan mudah mencari shot-shot gambar tersebut hanya dengan membaca shotlist yang ada. Ia tidak perlu lagi secara terus-menerus mencari shot gambar dengan memutar kembali atau mempercepat pita pada alat penyunting. Selain dapat mempercepat kerja, juga dapat menekan frekuensi penggunaan alat agar dapat bertahan lebih tahan lama.

Berikut adalah contoh Shotlist:
Baca entri selengkapnya »





B A H A S A B E R I T A T V

14 07 2009

bahasa berita tv

Menulis berita televisi sedikit berbeda dengan menulis berita untuk media cetak. Pemirsa Tv hanya menyaksikan gambar dan mendengarkan narasi berita. Bagi jurnalis ini tentu lebih berat dibanding dengan membaca surat kabar dan majalah. Karena itu, kita harus menyajikan berita tv supaya mudah dipahami penonton. Prinsipnya, bahasa yang digunakan untuk tv adalah bahasa lisan. Kita harus bercerita atau bertutur, bukan menulis.

Soren H.Munhof mengemukakan, penulisan berita TV harus tepat (accuracy), singkat (brevity), jelas (clarity), sederhana (simplicity) dan dapat dipercaya (sincerity).

Tepat (accuracy) adalah suatu keharusan. Penulisan berita harus tepat. Data yang dituliskan harus sesuai dengan konteks permasalahan dan dapat dipertanggungjawabkan. Nama orang, jabatan orang, tempat kejadian, tanggal kejadian, dan data-data yang berkaitan dengan angka tidak boleh melenceng. Berita yang ditulis adalah fakta. Tidak boleh mengandung opini atau pendapat reporter. Kalau tulisan mengandung opini, berita akan cenderung tidak sesuai dengan konteks permasalahan. Ingat, anda sebagai reporter bukan komunikator. Anda adalah alat atau media penyampai informasi dari sumber berita kepada pemirsa.

Singkat (brevity). Penulisan yang singkat berkaitan dengan ekonomi kata. Supaya kalimat yang anda susun singkat, maka tiap kata yang ditempatkan menjadi sebuah kalimat haruslah kata yang tepat dan mudah dipahami. Hindari penggunaan kata-kata yang mubazir. Kata yang mubazir itu jika dihilangkan dari sebuah kalimat tak akan mengubah maknanya.

Jelas (Clarity). Kalimat harus dibuat teratur, mulai dari pokok kalimat (subyek), sebutan (predikat), obyek, dan keterangan. Usahakan supaya pokok kalimat dan sebutan berdekatan letaknya. Kalau pokok kalimat dan sebutan berjauhan letaknya akan mengacaukan perhatian penonton.

Sederhana (simplicity). Penonton tv sangat heterogen. Tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, suku dan tingkat sosial mereka sangat berbeda. Sementara bahasa yang kita buat harus ditujukan kepada yang beragam tersebut.

Dapat dipercaya (sincerity). Berita yang disusun haruslah berdasarkan fakta peristiwa dan fakta pendapat yang obyektif. Oleh karena itu, berita harus dapat dipercaya dan memenuhi kaidah etika, undang-undang dan hukum.

TANDA BACA, ANGKA DAN SINGKATAN

Baca entri selengkapnya »





Teknik Pengambilan Gambar

19 06 2009

Dalam dunia photography, kuda-kuda merupakan salah satu faktor penting pada saat pengambilan gambar. Kuda-kuda yang kurang pas dapat mengakibatkan hasil gambar yang kurang memuaskan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perangkat kamera. Sebelum melakukan shooting ada baiknya jika seorang juru kamera persiapan-persiapan sebagai berikut:

* Penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya mengikuti aturan penggunaan yang tertulis pada manual book. Pahami kelebihan dan kekurangannya.
* Setelah paham dengan seluk beluk kamera, pahami juga adegan apa dan teknik yang bagaimana yang diinginkan.
* Membuat breakdown peralatan yang akan digunakan seperti baterai, mikrofon, kabel extension, dll.
* Pastikan baterai dalam kondisi prima dan penuh, dan semua fasilitas di kamera berjalan dengan baik.

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil.

Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.

Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis kamera :

Analog (AV)

Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S – VHS, 8mm, dan Hi – 8.

Digital (DV)

Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.

Teknik Pengambilan Gambar

Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :

1. Baterai untuk catu daya

2. Tempat kaset

3. Tombol Zoom

4. Tombol Recorder

5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)

6. Cincin Fokus

7. Jendela preview (View Fender)

8. Mikrofon

9. Tombol kontrol cahaya

10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).

11. Terminal DC Input.

Baca entri selengkapnya »





Perencanaan Liputan Jurnalistik

19 06 2009

NewsPerencanaan Liputan Jurnalistik merupakan hal pokok yang wajib dilakukan oleh seorang jurnalis. Ada pepatah: “Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan”. Maka dari itu, untuk mencegah kegagalan ada hal-hal pokok yang yang harus dipersiapkan oleh seorang jurnalis. Yang pertama adalah :

1. Mental
Mental mencakup niatan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Untuk melakukan liputan seorang wartawan/jurnalis haruslah memilki mental yang siap. Dalam arti siap segala-galanya. Kadangkala dalam melakukan liputan ada seorang jurnalis yang belum siap mentalnya, maka saat dia menunggu selama berjam- jam lamanya di depan gedung KPK (Komisi Pemberantasana Korupsi) ataupun di depan Gedung Bundar Kejaksaan Agung, maka sang jurnalis tersebut sudah merasa tidak betah dan mengeluh.

Padahal, sepanjang pengalaman penulis selaku wartawan dan mengamati kinerja rekan wartawan yang lain, diketahui hampir 70 persen pekerjaan wartawan dilakukan di lapangan. Mencari berita seringkali mengharuskana kita menunggu berjam-jam di sebuah pos liputan yang ditentukan ataupun target target liputan yang sudah direncanakan bersama oleh kantor redaksi. Contoh: Menunggu berjam jam di depan kantor Bareskrim Mabes Polri di Jl Trunojoyo, Jakarta sudah merupakan bagian dari keseharian tugas wartawan yang mendapat pos liputan di lingkungan Mabes Polri. Menunggu di depan kantor Bareskrim pada kenyataannya selalu lebih efektif daripada hanya menunggu berita sambil duduk-duduk santai di kantor Humas Mabes Polri. Karena baik tersangka, atau pengacara yang berkaitan dengan kasus besar selalu bisa ditemui.

Contoh yang lainnya adalah saat wartawan menanti masuk serta keluarnya para tersangka yang ditangkap oleh KPK. Sudah lazim apabila KPK memeriksa tersangka hingga 12 jam lamanya. Maka selama itu pulallah, apabila tidak ada pergantian shift- maka seorang jurnalis harus siaga di depan kantor KPK, agar tidak kehilangan momen penting. Kemudian contoh yang masih segar dalam ingatan kita, ketika ratusan wartawan menunggu dengan “harap-harap cemas” di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), saat mantan Preasiden Soeharto sedang dalam kondisi kritis, hingga akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Tak ayal, semua hal itu membuat wartawan selalu siaga 24 jam. Karena berita mengejutkan bisa muncul pada waktu- waktu yang “berat”, seperti tengah malam hingga menjelang dini hari. Untuk itu dengan persiapan mental sebaik- baiknya dapat mendukung pula kesiapan fisik, untuk tugas yang tak terduga.

2. Yang kedua adalah persiapan materi pertanyaan serta bahan- bahan pendukung untuk melakukan wawancara, dan mengajukan pertanyaan kepada pihak- pihak yang berkompeten dalam penanganan sebuah masalah. Hindari mencari keterengan yang “asal dapat” dari orang- orang yang kurang penting seperti misalnya, kepada seorang staf Humas yang kurang berpengalaman ataupun kepada orang- orang yang memang kurang paham terhadap situasi yang sedang berkembang. Misalnya saat wartawan menunggu di KPK, tentu saja tidak mungkin menanyai kepada staf- staf biasa KPK yang tugasnya hanya administrasi. Carilah orang -orang kunci yang berwenang memberi informasi.

Baca entri selengkapnya »





Menulis Dalam Bentuk Visual

9 06 2009

pen_n_pad“Bagi saya komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun juga pandangan kita mengenai suatu hal, bukan hanya dapat terwujut dalam dalam bentuk tulisan tapi juga gambar”.

Beberapa bulan kemarin saya mengikuti kompetisi desain iklan yang diadakan kampus saya. Kompetisi desain ini bertemakan pengenalan jurusan kepada masyarakat luar atau target pasar. Tentunya dalam mengikuti kompetisi ini bagaimana saya akan mengkomunikasikan jurusan saya lewat pesan yang berupa visual.

Tema yang diambil dari lomba tersebut ialah You Are What You Comunicate. Artinya Diri kita ialah apa yang kita komunikasikan kepada dunia luar. Tentunya kalimat ini memiliki arti yang luas karena apa yang kita komunikasikan tidak hanya bersifat verbal tapi juga nonverbal. Selain itu soft skill yang dimiliki juga akan menjadi tolak ukur dari komunikasi itu sendiri.

Karena iklan yang dibuat haruslah benar-benar mengkomunikasikan jurusan saya maka dari visual yang akan saya buat haruslah berisi tentang poin-poin penting dari jurusan Ilmu komunikasi dikampus saya. antara lain :

1. Iklan menjelaskan secara visual apa itu komunikasi dan bidang dari ilmu komunikasi.
2. Dalam jurusan, tidak ada senioritas, semua perbedaan dan tingkatan bersatu dan saling melengkapi.
3. Menggambarkan kualitas dari SDM
4. Memberikan citra yang positif tentang jurusan

Setidaknya itulah poin yang pastikan dalam visual iklan yang lombakan. saya memastikan bahwa poin-poin diatas ada dalam iklan saya selain juga saya harus memasukkan kaidah-kaidah dasar periklanan, AIDDA, dsb dalam komunikasi iklan tersebut. dalam visual iklan buatan saya menggambarkan ada sekelompok mahasiswa yang berada beraksi didepan ‘kemasannya’ masing-masing sesuai dengan masing-masing bidang mahasiswa itu sendiri.

Mereka berkomunikasi secara non verbal seolah menunjukkan siapa diri mereka dan bidang apa yang mereka tekuni. saya mengibaratkan bahwa mahasiswa komunikasi — seperti mahasiswa jurusan lain pula — adalah “produk manusia” siap pakai dan kemasan ‘produk’ yang berada dibelakangnya merupakan identitas dari produk tersebut.

Nah kenapa SDM yang ada dalam visual berada diluar kemasan bukan didalam menggambarkan bahwa mahasiswa komunikasi kampus saya tidak sekedar ‘siap pakai’ yang menunggu rekruitmen, tapi juga secara aktif mereka terus berkarya dan berguna untuk orang sekitar.

Dalam tulisan dan gambar terdapat korelasi satu dengan yang lain. bagaimana suatu tulisan dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar dan bagaimana dalam suatu gambar dapat dijabarkan dalam bentuk tulisan. dari sisi promosi, keduanya dibutuhkan tergantung dari target yang akan dikomunikasikan dan kebutuhan promosi tersebut. masing masing terdapat kelebihan dan kelemahan juga saling mendukung.

Tulisan dapat efektif sebagai advertorial suatu produk yang menjelaskan secara rinci maupun data-data. sedangkan visual lebih kearah daya tarik kepada konsumen untuk lebih memperhatikan komunikasi yang akan disampaikan. bahkan saat ini kita kita tidak terlepas dari komunikasi berbentuk visual, jadi komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun pandangan, bukan hanya dapat terwujud dalam bentuk tulisan tapi juga melalui gambar.
jadi buat saya untuk lebih menarik minat seseorang, agar ‘mendengarkan’ komunikasi yang saya sampaikan, saya tak lepas dari komunikasi-komunikasi dalam bentuk visual – selain tentunya tulisan. minimal, visual yang ada menjadi pelengkap dan penarik minat untuk membaca artikel saya.

Saya juga berharap pengunjung Blog saya ini tidak hanya menganggap artikel itu hanya berupa tulisan saja, tetapi juga visual yang ada, karena tulisan maupun visual sama-sama berisi tentang informasi, pendapat, pandangan maupun argumentasi.





Perbedaan Jurnalis Media Cetak Dan Televisi

9 06 2009

Apa sih bedanya, kerja sebagai Jurnalis di Media Surat Kabar dan di Stasiun Televisi Siaran?

Media & Jurnalisme
Dalam prinsip jurnalistik yang diterapkan, secara garis besar sebenarnya tidak ada perbedaan. Kriteria layak berita di surat kabar dan di media televisi, relatif juga sama. Hanya, di media televisi ada penekanan lebih besar pada aspek visual (gambar). Hal yang bisa dipahami, karena televisi adalah media audio-visual.

Saya pernah dengar pengalaman dari dosen saya yang bekerja selama tujuh tahun di Harian Kompas (1988-1995), dan setelahnya bekerja di ANTV (sejak Februari 2002). Berdasarkan pengalaman pribadinya, perbedaan yang beliau rasakan — sebagai jurnalis di dua jenis media itu — justru pada aspek lain. Yaitu, lebih pada kejelasan porsi tanggung jawab dan peran kinerja, yang bisa berpengaruh langsung pada kemajuan atau kemunduran perusahaan media tempat dia bekerja. Juga, pada perbedaan peluang untuk “tampil” berkarya secara individual. untuk saat ini, beliau selain mengajar salah satu mata kuliah saya sebagi dosen tidak tepap, beliau buka usaha kecil-kecilan di rumahnya.

Di media cetak, seperti di harian Kompas, ia bisa menulis berita atau artikel dengan byline, mencantumkan namanya sendiri di tulisan tersebut. Meskipun setiap tulisan yang di muat itu sudah melalui proses penyuntingan oleh orang lain, baik dari segi bahasa atau pun content, tetapi ia tetap bisa mengklaim bahwa itu adalah tulisan karya “saya”. Bisa dibilang, 90 persen dari materi yang dimuat itu adalah karya saya.

Di media televisi, tampil secara individual itu sulit dilakukan, karena semua paket berita ataupun tayangan benar-benar dikerjakan secara kolektif. Untuk liputan berita pun minimal sudah harus dikerjakan berpasangan, oleh seorang reporter dengan seorang camera person. Walaupun, bisa juga dilakukan seorang diri sebagai VJ (video journalist).

Baca entri selengkapnya »





Jurnalistik Televisi

4 06 2009

Pengertian dan Aplikatif Jurnalsitik Televisi

Jurnalistik TV
Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio). Karena medium komunikasinya adalah gambar dan suara, dengan sendirinya terdapat perbedaan yang cukup tajam antara jurnalistik media cetak (print media) dan jurnalistik media radio (audio). Secara umum perbedaan itu terdapat pada :

1. Cara-cara pengumpulan data (news gathering) media televisi harus selalu on the spot. No pictures, no news. Dalam hal tertentu words must less than pictures. Implikasinya adalah pada kesempatan atau mobilitas kru televisi harus lebih tinggi dari media jenis lainnya untuk menjamin keseketikaan sebuah berita disajikan kepada penonton.

2. Penggunaan bahasa yang berbeda. Media televisi selalu menggunakan bahasa tutur, bahas lisan dengan segala implikasinya. Ada ahli yang menyebutnya sebagai bahasa gambar. Para broadcaster harus paham benar bahwa mereka menulis berdasarkan gambar, write to pictures, atau bertutur tentang gambar. Dan, seperti yang sering terjadi, bukan menempelkan gambar pada kata-kata yang lebih dulu ditulis.

3. Jika dalam waktu 2-3 tahun ke depan insan-insan televisei belum bisa menghasilkan video jurnalis yang multi skill dapat dipastikan tuntutan kerja tim di televisi jauh lebih berat daripada tuntutan kerja tim di media cetak maupun radio. Setidaknya, untuk mengejar satu atau dua berita televisi masih menuntut kerjasama harmonis antara reporter-camera person-dan driver. Tidak terbayangkan jika salah satu di antara ketiganya macet, ngambek, terlambat atau terganggu soal-soal teknis lainnya. Jika dirangkai dengan proses kerja berikutnya, hingga sampai ke layer, dapat dibayangkan, salah satu kerumitan terbesar dalam kerja televisi adalah mengelola tim yang benar-benar efektif. Salah satu dalil kerja di televisi adalah keberhasilan mengelola persiapan tim sudah menjadi jaminan 70 persen sukses siaran berita televisi.

Secara umum mekanisme kerja di sebuah news room televise sama dengan isi mekanisme kerja di sebuah media cetak maupun radio. Dengan sedikit varian yang berbeda antara satu news room dari news room lainnya, rangkaian kerja di televisi meliputi tiga aktivitas pokok. Pertama, aktivitas news gathering. Kedua, aktivitas news production, dan ketiga, aktivitas news presenting.

Satu hal yang memang sangat perlu ditekankan bahwa dalam mekanisme news gathering televisi perencanaan yang dilakukan oleh para assignment editors agak berbeda dengan perencanaan yang dilakukan oleh para koordinator reporter media cetak maupun radio misalnya.

Derivasi teknis yang sangat berbeda itu adalah bahwa ketika sebuah kru televise turun ke lapangan, assignment antara gambar dan berita haruslah sinkron. Ekstrimnya, seorang assisgment editor harus memerintahkan krunya lebih penting untuk segera mendapatkan gambar ketimbang talking newsnya. Karena itu pada ekstrim yang lain, ketika pulang dari lapangan, seorang produser/eksekutif produser televisi tidak akan menanyakan “berita apa yang akan dibawa oleh kru dari lapangan” tetapi “ gambar apa yang anda bawa dari lapangan ?” pertanyaan ini mengindikasikan betapa gambar jauh lebih penting nilainya bagi televisi daripada kata-kata. News Value Judgment nya sangat tergantung pada seberapa penting, seberapa menarik, seberapa dramatis, dan seberapa kuatnya magnitude gambar yang diperoleh kru di lapangan. Itu pula yang menjelaskan mengapa sebuah atau beberapa berita yang tampak diutamakan penayangannya oleh Televisi belum tentu diutamakan oleh media cetak atau sebaliknya.

Hal yang karakteristik televisi adalah News Productionnya yang harus menggunakan bahasa tutur, bahasa gambar, menuliskan tentang gambar dan atau melaporkan tentang gambar. Tentu saja penggunaan bahasa tutur ini sangat banyak Implikasinya, terutama karena harus benar-benar sinkron antar gambar dan kata-kata dan atau kalimat. Karena itu, adalah kewajiban seorang produser atau Reporter untuk ‘meneliti’ atau ‘mempreview’ gambar terlebih dahulu sebelum menulis naskah: bukan sebaliknya menulus naskah dulu lalu ditempel-tempel gambar.





Production Team

4 06 2009

Production Team

Tim produksi televisi terbagi layaknya unsur dalam sebuah organisasi yang memiliki perbedaan fungsi dan variasi pekerjaan. berikut team yang tergabung dalam produksi dalam Station TV.

Eksekutif Produser

Orang yang mengelola seluruh organisasi produksi (produser dan orang dibawahnya) serta hal administratif yang menyertainya , EP mengendalikan dan mengkoordinasikan aspek manajemen/bisnis produksi termasuk budget program/pendanaan bahkan juga terlibat dalam isu yang lebih menyeluruh dalam proses produksi seperti : konten kreatif, rundown, skrip.

Produser
Bertanggung jawab untuk mengelola proses produksi secara spesifik, concerned dengan pengelolaan staff dan kru produksi, koordinasi antar departemen, production scheduling, rencana produksi, memilih dan atau menginisiasi konsep program bersama kreatif/writer. bekerjasama dengan director pada eksekusi dan tetap bertanggung jawab terhadap hasil akhir program secara menyeluruh sampai proses editing (jika diperlukan).

Director
bertanggung jawab menterjemahkan semua aspek konten kreatif ke dalam bentuk audio dan visual sehingga bisa menjadi sebuah program yang dinikmati pemirsa.
Karena hal di atas, director bertanggung jawab memimpin tim lighting, audio, camera, dan floor director sehingga eksekusi program berjalan lancar.

Production Assistant
Pihak yang mengorganisasikan semua aspek teknis dalam proses produksi, menyiapkan proses rehearsal, berkordinasi dengan pihak terkait
Tak jarang PA juga membantu director mempersiapkan call shot untuk membantu director, mempersiapkan materi VTR, time coding dll

Baca entri selengkapnya »





Struktur Organisasi News

4 06 2009

Dalam dunia kerja, pastinya ada yang namanya struktur organisasi. baik itu di system pemerintahan dan dalam perusahaan lainnya. seperti hal nya yang ada dalam perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Dalam department tempat saya bernaung juga ada system struktur organisasi. mulai dari level Kepala Department – Wakil Kepala Department – Kepala Seksi sampai dengan Staff terkait.

Diagram Struktur

Begitupun dalam pemberitaan, Struktur organisasi tersebut pasti ada. awalnya saya bingung saat di beri tugas oleh salah satu dosen saya dalam mata kuliahnya, untuk mencari dan membuat struktur organisasi dalam pemberitaan. karena saya sendiri bukan dari background broadcasting dalam dunia kerja saya sehari-hari.

Alkhasil sempat kelabakan juga saat harus mencari referensi dari beberapa teman yang kerja di stasiun TV, karena kebanyakan dari mereka adalah orang Produksi, bukan orang NEWS. Dan akhirnya, malam itu tiba-tiba sekitar pukul 22.30 WIB, Handphone saya berbunyi dan terdengar suara merdu dari si penelpon, tanya kabar dan ngobrol ngalor-ngidul soal segala sesuatu yang memang kami sudah lama tidak bicarakan karena jarak dan waktu yang memisahkan. kesibukan satu sama lainnya menjadi alasan kenapa kita sulit untuk bertemu.

Astaga… Lusiana Putri …..
Yesss!!! saking asiknya ngobrol, Saya melupakan satu hal, ternyata temenku ini adalah Lusiana Putri yang dulu sempet menjadi presenter berita di GLOBAL TV. dan saat ini dia mendedikasikan diri nya di TRANS7 sebagai Reporter lapangan.

Mmmmm… tanpa basa-basi saya pun langsung mencari informasi dan Flow Chart dari kerabat kerja yang terlibat dalam News. dan dari situ, saya bisa menarik kesimpulan dan akhirnya dapat mengumpulkan tugas dengan tepat waktu. Special Thanks To Lusiana Putri yang sudah banyak membantu saya dalam pembuatan salah satu tugas mata kuliah saya tersebut.

Dan ini adalah Flow Chart hasil dari rekapan saya sesuai dengan informasi yang saya peroleh dan pelajari dari lusiana putri.. semoga bermanfaat juga buat teman2 lainnya.
struktur organisasi news





Tahapan Produksi Televisi

3 06 2009

Produksi televisi merupakan proses pembuatan acara untuk ditayangkan ditelevisi. Proses produksi ini merupakan perjalanan panjang yang melewati berbagai tahapan, melibatkan banyak sumber daya manusia dengan berbagai keahlian dan berbagai peralatan serta dukungan biaya.

Acara televisi tersebut diproduksi oleh stasiun televisi (in house production) atau pihak luar yang biasa disebut sebagai rumah produksi (production house).

Pra Produksi


Membuat konsep program

Untuk membuat acara (program) televisi, hal pertama yang harus dilakukan adalah penggalian ide atau gagasan kreatif. Tentunya ide-ide yang akan dilahirkan juga harus mempertimbangkan berbagai hal.

Berbagai aspek perhatian sebelum merancang program

- Hukum

Acara harus dibuat seorsinil mungkin untuk menghindari pelanggaran hal cipta dan mentaati undang undang yang berlaku di Indonesia.

- Kultur
Televisi sebagai media yang mempunyai pengaruh sosiologis yang kuat, tentunya acara-acara yang dihasilkan juga memiliki kewajiban dan tanggung jawab terhadap pembentukan nilai-nilai positif dimasyarakat. Para pembuat program pun juga harus menghormati nilai-nilai budaya yang ada di Indonesia juga menghindari hal yang dapat menyinggung SARA.

- Pasar (Market)
Untuk acara yang dibuat untuk tujuan bisnis, para pembuat program harus mengenal pasar yang dituju. Kita tidak dapat membuat acara yang bagus menurut sudut pandang subjektif kita sendiri. Kita juga harus melihat dari sudut pandang calon pemirsa yang akan kita bidik. Untuk membidik calon pemirsa, para pembuat acara TV biasanya melakukan pengamatan sendiri atau mempelajari data-data yang dibuat oleh Nielsen Media Research mengenai calon pemirsa yang dituju untuk kemudian menseleksi pasar potensialnya. Penseleksian pasar potensial dilakukan dengan penggolongan berdasarakan jenis kelamin, umur, status ekonomi dan sebagainya.

Contoh penggolonan pasar

National Population – Age

Proporsi penduduk yang terbesar adalah kalangan yang berusia 20 ke atas.
Proporsi female dan male di kalangan anak, remaja dan dewasa
diagram1

Baca entri selengkapnya »





Bagaimanakah Televisi Bekerja?

3 06 2009

Sebelum kita mengetahui prinsip kerja pesawat televisi, ada baiknya kita mengetahui sedikit tentang perjalanan objek gambar yang biasa kita lihat di layar kaca. Gambar yang kita lihat di layar televisi adalah hasil produksi dari sebuah kamera.

Proses Kerja Televisi

Objek gambar yang di tangkap lensa kamera akan dipisahkan berdasarkan tiga warna dasar, yaitu merah (R = red), hijau (B = blue). Hasil tersebut akan dipancarkan oleh pemancar televisi (transmiter). Pada sestem pemancar televisi, informasi visual yang kita lihat pada layar kaca pada awalnya di ubah dari objek gambar menjadi sinyal listrik. Sinyal listrik tersebut akan ditransmisikan oleh pemancar ke pesawat penerima (receiver) televisi.

PRINSIP KERJA TELEVISI

Pesawat televisi akan mengubah sinyal listrik yang di terima menjadi objek gambar utuh sesuai dengan objek yang ditranmisikan. Pada televisi hitam putih (monochrome), gambar yang di produksi akan membentuk warna gambar hitam dan putih dengan bayangan abu-abu. Pada pesawat televisi berwarna, semua warna alamiah yang telah dipisah ke dalam warna dasar R (red), G(green), dan B (blue) akan dicampur kembali pada rangkaian matriks warna untuk menghasilkan sinyal luminasi.

Selain gambar, juga membawa suara ?

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.