Mengumpulkan Informasi

14 07 2009

informasi
Sumber Berita

Sumber berita harus layak dipercaya dan menyebutkan nama sumber tersebut. Sumber-sumber yang tidak disebutkan namanya merupakan isu yang tidak dapat dipertanggung jawabkan dan merupakan pelanggaran kode etik. Karenanya berhati-hatilah memilih orang sebagai nara sumber yang akan dikutip atau sebagai bahan penulisan berita.

Sekali memperoleh sumber yang salah maka akan berdampak negative atau menurunnya kepercayaan pemirsa terhadap kredibilitas media dan sumber tersebut. Carilah orang-orang yang benar-benar mengetahui tentang peristiwa yang sedang diliput oleh reporter dan juru kamera.

Mendapatkan sumber yang berbeda dari beberapa orang akan jauh lebih baik ketimbang hanya mendapatkan satu nara sumber. Ini akan menjaga akurasi berita yang dibuat. Orang-orang yang berada di sekitar, terlebih lagi bagi mereka yang terlibat langsung, merupakan informasi yang baik. Sebaliknya, seorang pengamat yang ahli di bidangnya seperti politisi, akademisi, ekonom atau ahli nuklir, meski mereka tak ada di lokasi kejadian dan terlibat langsung, juga merupakan sumber menarik yang dapat ditampilkan atau dicuplik dalam rangkaian dalam rangkaian penulisan berita.

Selain sumber yang langsung terlibat langsung di lokasi kejadian, juga ada beberapa sumber lain yang dapat dijadikan informasi yaitu:

Untuk Berita Internasional

Kantor Berita Surat kabar

Sumber-sumber yang berasal dari kantor berita surat kabar akan sangat membantu dalam memberikan suplai informasi dan latar belakang peristiwa. Tetapi seberapa banyak yang diperlukan, sangat bergantung pada stasiun tv masing-masing.

Baca entri selengkapnya »





Laporan Dengan STAND UP

14 07 2009

STAND UP

Secara sederhana, Stand Up dapat diartikan sebagai laporan reporter dalam keadaan berdiri di depan kamera. Laporan ini umumnya diberikan secara langsung (live report), namun stand up juga dapat disampaikan secara rekaman (taping).
Stand-up penting dilakukan untuk berita-berita besar dan menarik. Langkah ini dapat mengangkat kredibilitas seorang reporter maupun stasiun pemberitaan tv bersangkutan. Di Indonesia, reporter RCTI mendiang Ersa Siregar pernah dikenal sebagai reporter stand upper yang handal. Ia kerap melakukan stand up dari lokasi konflik di Aceh dalam kaitan dengan konflik Aceh dengan GAM. Bahkan nyawanya pun berujung saat liputan.
Stand-up juga biasanya dilakukan apabila reporter tengah meliput di luar negeri. Ini tentu akan memberikan kebanggan tersendiri bagi reporter maupun stasiun Tv yang mengirimkannya. Penonton pasti akan memberi apresiasi tersendiri terhadap penampilan tersebut karena sesuatu yang asing menarik untuk diperhatikan.
Reporter dapat melakukan stand-up di awal atau akhir berita. Bisa juga dua kali, di awal dan akhir berita. Pada akhir berita, reporter mengakhirinya dengan menyebut nama, stasiun tv, serta lokasi tempat melaporkan berita. Misalnya, Peter Arnett, CNN Bagdad, Irak.

PATER
Peter Arnett (CNN) saat Stand Up di Irak

Hasil stand-up tidak boleh cacat. Kalau pada saat merekam stand-up ada yang kurang sempurna harus diulangi hingga sempurna. Oleh karena itu, sebelum melakukan stand-up, reporter harus membuat catatan apa yang akan dikemukakan dan berusaha memahaminya. Pada saat stand-up, reporter jangan terlalu terpaku dengan kalimat-kalimat yang disusun dalam catatan, tetapi upayakan berimprovisasi supaya tidak kaku. Gunakan catatan hanya sebagai landasan berpijak untuk stand-up. Laporan stand-up nantinya akan diolah kembali di mesin editing oleh editor gambar dalam bentuk berita paket (package).

Tujuan dan maksud Stand Up:

• Menunjukkan kredibilitas stasiun tv
• Menunjukkan reporter berada di lokasi kejadian
• Menggantikan visual yang tidak ada
• Sebagai jembatan untuk menunjukkan dua lokasi yang berbeda
• Untuk mengganti nara sumber yang menolak memberi pernyataan di kamera, untuk perimbangan (balancing) berita
• Untuk memperagakan suatu alat
• Sebagai style station, standar penutup laporan

Stand up pada dasarnya adalah menulis di layar, tanpa bantuan alat apapun dari komputer di newsroom. Reporter harus siap membacakan laporan stand up begitu camera siap. Seorang stand-upper yang baik adalah seorang pengingat yang kuat. Ia harus mengingat (hapal) semua catatan berita yang disusun sebelumnya, dan tidak banyak membaca catatan di kertas.

Jangan pernah melakukan stand up dengan hanya membaca naskah jadi yang telah ditulis. Ini akan membuat reporter hanya penghapal naskah, bukan penyampai yang baik. Buat poin-poin laporan dalam kertas, kembangkan dengan frame sendiri yang telah dimiliki.
Lama durasi sebuah laporan stand-up berkisar antara 10 sampai 20 detik. Namun dalam beberapa kasus, laporan dapat saja disampaikan lebih panjang jika sebuah cerita yang kompleks membutuhkan pemaparan rinci, namun tak memiliki gambar yang cukup.

sctv
Reporter SCTV sedang bersiap stand up

Latar belakang laporan juga penting diperhatikan, untuk memberi tahu pemirsa di mana reporter berada. Pemilihan latar belakang lokasi yang pas dapat membentuk kepercayaan pemirsa terhadap laporan yang diberikan reporter. Jika melaporkan kebakaran, akan lebih pas jika latar belakang laporannya ada di depan lokasi kebakaran. Saat unjuk rasa ribuan buruh, lebih baik reporter stand-up di depan ribuan buruh. Hindari latar belakang stand-up yang buruk, seperti tembok, lokasi yang berbeda dengan yang diceritakan

Baca entri selengkapnya »





Esay Listening Formula

14 07 2009

formula

Dalam menulis naskah berita ada beberapa hal yang harus diketahui agar informasi yang ditulis sebagai bahan komentar penyiar atau reporter mudah dipahami oleh pemirsa. Karenanya terdapat pola “Easy Listening Formula”, yakni formula untuk memudahkan mendengar bagi pemirsa.

Formulasi Easy Listening

1. Alur informasi

- Susun laporan dalam alur menulis naskah menyesuaikan gambar atau gambar yang akan menyesuaikan naskah berita.

- Kedua pandangan itu sama benarnya, karena ada argumen yang melatari pandangan tersebut. Karena tv adalah media bergambar, sehingga gambar harus lebih dulu diprioritaskan.

- Sedangkan pendapat lain menyatakan, tugas utama dalam kaporan berita adalah menceritakan peristiwa dan gambar agar mendukung penggambaran peristiwa yang diuraikan di dalam narasi.

- Gambar adalah bahasa yang universal, namun diperlukan komentar agar gambar mudah dipahami.

- Kita bisa ambil contoh: tayangkan sebuah VT peristiwa tanpa narasi, ajak beberapa orang untuk melihatnya. Karena tak ada informasi penyerta, akan ada banyak komentar yang muncul usai melihat gambar tersebut.

- Karenanya gambar harus dilengkapi informasi tertulis yang dibacakan penyiar/ reporter.Namun sebaliknya, berita tanpa gambar akan mudah dipahami pemirsa.

- Walau kedua-duanya dapat ditempuh, sebagian jurnalis tv cenderung menceritakan gambar ketimbang menyesuaikan gambar dengan naskah.

- Namun untuk berita tertentu seperti peristiwa politik, terkadang naskah harus memiliki dimensi pendalaman yang lebih kuat dibandingkan gambar. Ini untuk menyiasati minimnya gambar.

- Apapun itu, dalam membuat sebuah berita tv, jurnalis dituntut tetap melakukan preview gambar dan melihat shotlist (daftar gambar) yang dimiliki atau diambil juru kamera.

- Saat menulis naskah dengan gambar yang disunting lebih dulu, dibutuhkan ketelitian mensinkronkan penempatan waktu dengan kata yang diucap jurnalis di layar. Shotlist dibutuhkan untuk memberikan ide agar memudahkan dalam penulisan naskah.

Baca entri selengkapnya »





Rumus 5C Untuk Penulisan Berita TV

14 07 2009

rumus

MERENCANAKAN PROGRAM BERITA

Sebuah program berita tv memerlukan perencanaan. Dan sebagian besar program berita televisi diselesaikan dalam perencanaan. Berita atau features tidak bisa begitu saja diletakkan di segmen 1,2 atau 3 tanpa penjelasan dan alasan yang kuat.
Seorang jurnalis di newsroom harus memiliki rencana menyeluruh. Harus ada keseimbangan antara berita, laporan, komentar, hiburan dan iklan. Idealnya sebuah program harus terdiri dari beberapa bagian. Mungkin ada beberapa berita umum, nasional, lokal, internasional dan feature. Pembedaan atau rubrikasi dalam program berita ini dilakukan untuk memudahkan pemirsa mendapatkan berita sesuai keinginannya.
Kadangkala ada pemirsa yang menyenangi berita dengan topik tertentu, dan ia hanya melihat berita tersebut. Sementara di pihak lain ada pula pemirsa yang menyenangi berita ringan features, dan biasanya ia hanya melihat program berita di bagian akhirnya saja, karena feature biasa ditempatkan di akhir program.
Pembedaan jenis berita dalam sebuah program berita perlu dilakukan sesuai magnitude berita. Sebuah peristiwa penting akan ditempatkan di awal segmen, sementara berita ringan di akhir segmen. Pembedaan jenis berita, misalnya di segmen 1 berisi berita nasional, segmen 2 berisi berita politik, segmen 3 berita kota, dan segmen 4 berita feature atau berita ringan.

TUJUAN PEMBEDAAN SEGMEN

1 Menarik perhatian pemirsa yang berminat pada kategorisasi berita tertentu.
2 Untuk menandai berbagai berita sesuai tingkat kepentingan tertentu.
3 Untuk memberi ciri program sesuai misi stasiun tv.

HAL PENTING BAGI PEWARTA TV

1 Kebanyakan orang tidak duduk diam saat melihat televisi. Mereka bisa melakukannya sambil melakukan aktivitas lainnya, seperti makan, membaca koran, atau memasak.

2 Oleh karenanya, jurnalis tv harus menciptakan tayangan berita yang menarik dari sisi gambar, naskah, dan isu.

3 Jika tak memiliki gambar yang kuat, setidaknya jurnalis harus memperkuat berita dengan naskah yang dalam dan lengkap. Begitu juga jika gambar dan naskah tidak terlalu kuat, maka isu yang diketengahkan harus kuat, memancing perhatian banyak orang untuk menonton tv.

4 Bila anda menulis berita tv, berarti kita menulis untuk didengar dan ditonton. Para pemirsa bukanlah pembaca koran yang bisa membolak-balikkan halaman koran jika informasi yang dibacanya kurang jelas.

5 Pemirsa hanya diberi kesempatan melihat sekali. Jika ada yang terlewat, maka ia akan tertinggal isu yang ditampilkan.

6 Karenanya, naskah berita tv mengikuti susunan logika tertentu, jadi ada benang merah yang dapat diikuti oleh para pemirsa. Menulis berita tv mirip dengan bercerita atau curhat.

7 Menggunakan kalimat yang pendek
8 Menggunakan bahasa yang lugas dan jelas
9 Hindari kata-kata klise
10 Ulangi fakta-fakta yang rumit
11 Gunakan atribusi waktu yang tepat, untuk membantu menunjukkan kebaruan berita.
12 Sebutkan sumber informasi anda dan kutipan yang menyertainya. Bila menggunakan falta dan angka yang bukan hasil penelitian anda sendiri, sebutkan sumber penelitian itu.

13 Hindari kutipan langsung. Kutipan langsung bisa didengar/dilihat dari synch nara sumber.

14 Sederhanakan angka. Lebih baik menggunakan ”hampir dua juta rupiah” daripada menyebutkan angka Rp. 1.999.990.

15 Tulis angka dengan kata-kata karena mungkin penyiar tidak dapat membacanya ketika dia dalam tekanan di studio. Misalnya US$490,61 tampak mudah dibaca di koran. Untuk tv, lebih baik menuliskan ”empat ratus sembilan puluh koma enam puluh satu dolar amerika”

16 Sebutkan jabatan seseorang di depan namanya. Misalnya Presiden SBY, kapolri jenderal Sutanto, cawapres Jusuf Kalla.

17 Hindari singkatan dan akronim (Uni Eropa lebih baik daripada EU).
18 Konsisten dengan penyebutan jabatan dan istilah.
19 Ulangi jabatan, nama dan konsep.
20 Taruhlah angka statistik yang akan mudah basi di dalam badan cerita dan bukan di pengantar atau cue.

21 Bayangkan pemirsa dari kalangan terbawah. Kira-.kira apakah mereka mengerti isi laporan anda? Jika ternyata masih banyak pertanyaan yang membingungkan, segera ubah cara penulisannya.

RUMUS 5 C UNTUK PENULISAN BERITA TV

Baca entri selengkapnya »





MENYATUKAN BERITA

14 07 2009

Satuan gambar
Berita TV tidak dapat dipisahkan antara audio dan visualnya. Justru kekuatan berita tv adalah perpaduan keduanya. Bagaimana menyatukan keduanya, butuh seni dan ketrampilan tersendiri.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memilih gambar dari liputan yang telah dilakukan:

- Perhatikan shotlist dengan teliti dan detil
– Susun gambar dalam catatan shotlist secara lengkap dan detil. Penyusunan dalam daftar mempermudah dalam penulisan berita. Hal ini juga berguna saat harus membuat berita secara mendadak, sementara data untuk narasi belum didapat karena tim masih di lapangan.
– Cek shotlist, gambar apa saja yang dimiliki.
Pengecekan stok gambar berguna untuk menyesuaikan persediaan gambar dengan rencana berita yang akan ditulis. Jika gambar lengkap, tentu memudahkan penyusunan berita.

- Perhatikan urut-urutan gambar, apakah ada kontinyuitasnya.
Gambar yang bagus adalah yang memiliki kontinyuitas (runut), ada logika gambar yang jelas, sehingga tidak jamping . Kontinyuitas ini tidak selalu harus berurutan atau kronologis. Tapi juga lengkap dengan detil shot-nya.

- Cek gambar apakah ada gangguan teknis, seperti scratch, cahaya yang under atau over, audio yang tidak keluar.

- Gangguan teknis pada gambar akan mempengaruhi kualitas berita secara keseluruhan. Lihat dulu, apakah gangguan ini tak dapat disiasati, misalnya dengan memotong (mengedit) bagian-bagian tertentu, sehingga gambar masih dapat digunakan menjadi sebuah berita. Jika tidak dapat digunakan harus dipikirkan mencari alternatif lain. Jika beritanya sangat penting, putuskan secepat mungkin menggunakan dokumentasi atau grafis.

- Cek synch atau wawancara
Sebuah wawancara yang bagus akan menjadikan berita tv lebih kuat. Periksa apakah synch cukup baik audionya, cek juga isi synch apakah sesuai dengan rencana semula? Jika tidak, tunda penayangan berita ini dan lengkapi dulu dengan synch yang baik.

Menyunting dan Menyusun Berita

Setelah kembali ke ruang redaksi, reporter dan editor gambar harus bekerja sama untuk merencanakan sebuah laporan berita. Pemikiran reporter tentang apa yang akan mereka tulis terhadap gambar-gambar yang ada dan pemikiran editor tentang gambar mana yang terbaik harus dipadukan ke dalam suatu sequence yang sesuai. Reporter menentukan gambar dan durasi yang diperlukan, sementara editor menitikberatkan pada kelayakan gambar dilihat dari segi komposisi, screen direction, intensitas cahaya, kualitas fokus, dan sebagainya.

Juru kamera hendaknya mencatat daftar gambar (shotlist) terhadap shot gambar yang sudah ia rekam untuk memudahkan penyuntingan berita. Shotlist tersebut kemudian diserahkan kepada reporter untuk dilakukan penentuan urutan gambar sesuai dengan ulasan yang akan mereka lakukan.

Bagian penting dalam tahapan ini adalah seorang reporter harus mengetahui dengan tepat uraian berita yang sedang disusun. Reporter tidak boleh membiarkan uraian naskahnya tidak didukung dengan gambar/ visual. Ia juga tidak boleh terjebak ke dalam sequence gambar yang terlalu panjang untuk sebuah uraian yang ia perlukan dalam menyusun berita. Sebaliknya, reporter juga jangan memanjangkan uraian narasi terhadap sequence gambar yang durasinya terbatas. Ini memerlukan kedisiplinan reporter dalam menulis naskah dan menggunakan gambar sebagai visual sesuai dengan asas sinkronisasi.

Editor harus teguh pendirian untuk menolak apabila gambar yang diminta reporter ternyata tidak layak untuk disiarkan mengingat kualitas cahaya, komposisi maupun alurnya yang tidak memenuhi syarat.

Suntingan dan susunan komentar bergantung pada penjelasan elemen kunci oleh reporter dalam menjawab formula klasik 5W + 1H yakni Who, What, When, Where, Why dan How. Apa yang telah terjadi, siapa yang terlibat, dimana, kapan, mengapa dan bagaimana peristiwa itu terjadi adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab saat menyusun berita.

Pertimbangan utamanya adalah harus dimulai dari elemen yang sangat penting dan bergantung pada peristiwanya. Selanjutnya harus dapat menjawab semua pertanyaan-pertanyaan pemirsa televisi. Jadi antara gambar dan komentar harus seimbang. Suntingan dan penulisan yang siap harus betul-betul menarik.
Sebuah berita yang durasinya 1.30 menit misalnya tidak mungkin akan dimasukkan soundbite yang durasinya sampai satu menit atau gambar statis yang lamanya sampai 30 detik lalu selebihnya dimasukkan gambar bergerak yang sangat cepat.

Gambar pembukaan dan penutupan biasanya sedikit lebih lama dibandingkan visual lainnya. Sebuah gambar pembuka yang durasinya paling tidak 5 detik atau lebih akan memberikan waktu yang cukup untuk dapat dipahami oleh pemirsa. Janganlah memulai komentar sebelum gambar berjalan selama 2 detik, karena itu gambar awal paling tidak harus berdurasi sekitar 5 detik. Sama halnya juga terhadap closing (gambar akhir) harus berdurasi paling tidak 5 detik setelah kalimat akhir pada ending berita. Alasannya, agar memperjelas akhir dari komentar untuk memudahkan pengertian pemirsa. Shotlist adalah elemen yang paling penting untuk mempercepat pekerjaan penyusunan gambar.

Urutan daftar gambar akan membantu reporter dalam memudahkan pemberian instruksi kepada editor tentang gambar apa yang ingin ia gunakan dalam paket yang sedang dikerjakan, misalnya Close Up (CU), medium shot (MS), Long Shot (LS) dan lain-lain. Editor juga akan memperoleh kemudahan dengan mengetahui shot lebih awal dari daftar gambar tersebut. Daftar shot gambar tersebut akan memberikan ide yang lebih baik kepada reporter dalam menulis komentar.

Dengan melihat shot gambar yang ada ketika mengumpulkan daftar shot untuk penyusunan berita, reporter punya kesempatan memilih shot-shot menarik yang bisa dipergunakan nantinya. Misalnya, ekspresi wajah, kerumunan orang, sikap orang dan lain-lain. Editor gambar juga akan dengan mudah mencari shot-shot gambar tersebut hanya dengan membaca shotlist yang ada. Ia tidak perlu lagi secara terus-menerus mencari shot gambar dengan memutar kembali atau mempercepat pita pada alat penyunting. Selain dapat mempercepat kerja, juga dapat menekan frekuensi penggunaan alat agar dapat bertahan lebih tahan lama.

Berikut adalah contoh Shotlist:
Baca entri selengkapnya »





B A H A S A B E R I T A T V

14 07 2009

bahasa berita tv

Menulis berita televisi sedikit berbeda dengan menulis berita untuk media cetak. Pemirsa Tv hanya menyaksikan gambar dan mendengarkan narasi berita. Bagi jurnalis ini tentu lebih berat dibanding dengan membaca surat kabar dan majalah. Karena itu, kita harus menyajikan berita tv supaya mudah dipahami penonton. Prinsipnya, bahasa yang digunakan untuk tv adalah bahasa lisan. Kita harus bercerita atau bertutur, bukan menulis.

Soren H.Munhof mengemukakan, penulisan berita TV harus tepat (accuracy), singkat (brevity), jelas (clarity), sederhana (simplicity) dan dapat dipercaya (sincerity).

Tepat (accuracy) adalah suatu keharusan. Penulisan berita harus tepat. Data yang dituliskan harus sesuai dengan konteks permasalahan dan dapat dipertanggungjawabkan. Nama orang, jabatan orang, tempat kejadian, tanggal kejadian, dan data-data yang berkaitan dengan angka tidak boleh melenceng. Berita yang ditulis adalah fakta. Tidak boleh mengandung opini atau pendapat reporter. Kalau tulisan mengandung opini, berita akan cenderung tidak sesuai dengan konteks permasalahan. Ingat, anda sebagai reporter bukan komunikator. Anda adalah alat atau media penyampai informasi dari sumber berita kepada pemirsa.

Singkat (brevity). Penulisan yang singkat berkaitan dengan ekonomi kata. Supaya kalimat yang anda susun singkat, maka tiap kata yang ditempatkan menjadi sebuah kalimat haruslah kata yang tepat dan mudah dipahami. Hindari penggunaan kata-kata yang mubazir. Kata yang mubazir itu jika dihilangkan dari sebuah kalimat tak akan mengubah maknanya.

Jelas (Clarity). Kalimat harus dibuat teratur, mulai dari pokok kalimat (subyek), sebutan (predikat), obyek, dan keterangan. Usahakan supaya pokok kalimat dan sebutan berdekatan letaknya. Kalau pokok kalimat dan sebutan berjauhan letaknya akan mengacaukan perhatian penonton.

Sederhana (simplicity). Penonton tv sangat heterogen. Tingkat pendidikan, usia, jenis kelamin, suku dan tingkat sosial mereka sangat berbeda. Sementara bahasa yang kita buat harus ditujukan kepada yang beragam tersebut.

Dapat dipercaya (sincerity). Berita yang disusun haruslah berdasarkan fakta peristiwa dan fakta pendapat yang obyektif. Oleh karena itu, berita harus dapat dipercaya dan memenuhi kaidah etika, undang-undang dan hukum.

TANDA BACA, ANGKA DAN SINGKATAN

Baca entri selengkapnya »





Teknik Pengambilan Gambar

19 06 2009

Dalam dunia photography, kuda-kuda merupakan salah satu faktor penting pada saat pengambilan gambar. Kuda-kuda yang kurang pas dapat mengakibatkan hasil gambar yang kurang memuaskan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perangkat kamera. Sebelum melakukan shooting ada baiknya jika seorang juru kamera persiapan-persiapan sebagai berikut:

* Penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya mengikuti aturan penggunaan yang tertulis pada manual book. Pahami kelebihan dan kekurangannya.
* Setelah paham dengan seluk beluk kamera, pahami juga adegan apa dan teknik yang bagaimana yang diinginkan.
* Membuat breakdown peralatan yang akan digunakan seperti baterai, mikrofon, kabel extension, dll.
* Pastikan baterai dalam kondisi prima dan penuh, dan semua fasilitas di kamera berjalan dengan baik.

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil.

Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.

Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis kamera :

Analog (AV)

Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S – VHS, 8mm, dan Hi – 8.

Digital (DV)

Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.

Teknik Pengambilan Gambar

Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :

1. Baterai untuk catu daya

2. Tempat kaset

3. Tombol Zoom

4. Tombol Recorder

5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)

6. Cincin Fokus

7. Jendela preview (View Fender)

8. Mikrofon

9. Tombol kontrol cahaya

10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).

11. Terminal DC Input.

Baca entri selengkapnya »








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.