Teknik Pengambilan Gambar

19 06 2009

Dalam dunia photography, kuda-kuda merupakan salah satu faktor penting pada saat pengambilan gambar. Kuda-kuda yang kurang pas dapat mengakibatkan hasil gambar yang kurang memuaskan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan perangkat kamera. Sebelum melakukan shooting ada baiknya jika seorang juru kamera persiapan-persiapan sebagai berikut:

* Penguasaan terhadap perangkat kamera yang akan digunakan. Sebaiknya mengikuti aturan penggunaan yang tertulis pada manual book. Pahami kelebihan dan kekurangannya.
* Setelah paham dengan seluk beluk kamera, pahami juga adegan apa dan teknik yang bagaimana yang diinginkan.
* Membuat breakdown peralatan yang akan digunakan seperti baterai, mikrofon, kabel extension, dll.
* Pastikan baterai dalam kondisi prima dan penuh, dan semua fasilitas di kamera berjalan dengan baik.

Dalam kegiatan produksi video/ film, terdapat banyak jenis kamera yang digunakan. Pembagian jenis kamera video/ film dibedakan atas media yang digunakan untuk menyimpan data (gambar & suara) yang telah diambil.

Seperti halnya pada fotografi, gambar yang telah diambil disimpan pada gulungan film. Namun pada kamera jenis ini, disamping gulungan film juga terdapat pita magnetik untuk menyimpan data suara. Dalam 1 detik pengambilan gambar, dibutuhkan sekitar 30 frame film. Adapun jenis film yang digunakan adalah film positif (slide), dimana untuk melihat isinya harus dicuci terlebih dulu di laboratorium film dan diproyeksikan dengan menggunakan proyektor khusus.

Kamera jenis ini menyimpan data gambar dan suara pada pita magnetik. Secara umum terdapat 2 jenis kamera :

Analog (AV)

Data yang disimpan sebagai pancaran berbagai kuat sinyal (gelombang) pada pita kamera perekam. Macam kamera jenis ini antara lain VHS, S – VHS, 8mm, dan Hi – 8.

Digital (DV)

Kamera perekam video digital menyimpan data dalam format kode biner bit per bit yang terdiri atas rangkaian 1 (on) dan 0 (off). Jenis kamera ini antara lain mini DV, dan Digital 8.

Teknik Pengambilan Gambar

Secara umum bagian-bagian kamera video terdiri atas :

1. Baterai untuk catu daya

2. Tempat kaset

3. Tombol Zoom

4. Tombol Recorder

5. Port Output video / audio (bisa berupa analog ataupun digital)

6. Cincin Fokus

7. Jendela preview (View Fender)

8. Mikrofon

9. Tombol kontrol cahaya

10. Tombol Player (untuk memainkan kembali video).

11. Terminal DC Input.

Baca entri selengkapnya »

Iklan




Perencanaan Liputan Jurnalistik

19 06 2009

NewsPerencanaan Liputan Jurnalistik merupakan hal pokok yang wajib dilakukan oleh seorang jurnalis. Ada pepatah: “Gagal merencanakan, berarti merencanakan kegagalan”. Maka dari itu, untuk mencegah kegagalan ada hal-hal pokok yang yang harus dipersiapkan oleh seorang jurnalis. Yang pertama adalah :

1. Mental
Mental mencakup niatan yang kuat untuk mencapai sesuatu. Untuk melakukan liputan seorang wartawan/jurnalis haruslah memilki mental yang siap. Dalam arti siap segala-galanya. Kadangkala dalam melakukan liputan ada seorang jurnalis yang belum siap mentalnya, maka saat dia menunggu selama berjam- jam lamanya di depan gedung KPK (Komisi Pemberantasana Korupsi) ataupun di depan Gedung Bundar Kejaksaan Agung, maka sang jurnalis tersebut sudah merasa tidak betah dan mengeluh.

Padahal, sepanjang pengalaman penulis selaku wartawan dan mengamati kinerja rekan wartawan yang lain, diketahui hampir 70 persen pekerjaan wartawan dilakukan di lapangan. Mencari berita seringkali mengharuskana kita menunggu berjam-jam di sebuah pos liputan yang ditentukan ataupun target target liputan yang sudah direncanakan bersama oleh kantor redaksi. Contoh: Menunggu berjam jam di depan kantor Bareskrim Mabes Polri di Jl Trunojoyo, Jakarta sudah merupakan bagian dari keseharian tugas wartawan yang mendapat pos liputan di lingkungan Mabes Polri. Menunggu di depan kantor Bareskrim pada kenyataannya selalu lebih efektif daripada hanya menunggu berita sambil duduk-duduk santai di kantor Humas Mabes Polri. Karena baik tersangka, atau pengacara yang berkaitan dengan kasus besar selalu bisa ditemui.

Contoh yang lainnya adalah saat wartawan menanti masuk serta keluarnya para tersangka yang ditangkap oleh KPK. Sudah lazim apabila KPK memeriksa tersangka hingga 12 jam lamanya. Maka selama itu pulallah, apabila tidak ada pergantian shift- maka seorang jurnalis harus siaga di depan kantor KPK, agar tidak kehilangan momen penting. Kemudian contoh yang masih segar dalam ingatan kita, ketika ratusan wartawan menunggu dengan “harap-harap cemas” di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), saat mantan Preasiden Soeharto sedang dalam kondisi kritis, hingga akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Tak ayal, semua hal itu membuat wartawan selalu siaga 24 jam. Karena berita mengejutkan bisa muncul pada waktu- waktu yang “berat”, seperti tengah malam hingga menjelang dini hari. Untuk itu dengan persiapan mental sebaik- baiknya dapat mendukung pula kesiapan fisik, untuk tugas yang tak terduga.

2. Yang kedua adalah persiapan materi pertanyaan serta bahan- bahan pendukung untuk melakukan wawancara, dan mengajukan pertanyaan kepada pihak- pihak yang berkompeten dalam penanganan sebuah masalah. Hindari mencari keterengan yang “asal dapat” dari orang- orang yang kurang penting seperti misalnya, kepada seorang staf Humas yang kurang berpengalaman ataupun kepada orang- orang yang memang kurang paham terhadap situasi yang sedang berkembang. Misalnya saat wartawan menunggu di KPK, tentu saja tidak mungkin menanyai kepada staf- staf biasa KPK yang tugasnya hanya administrasi. Carilah orang -orang kunci yang berwenang memberi informasi.

Baca entri selengkapnya »





Menulis Dalam Bentuk Visual

9 06 2009

pen_n_pad“Bagi saya komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun juga pandangan kita mengenai suatu hal, bukan hanya dapat terwujut dalam dalam bentuk tulisan tapi juga gambar”.

Beberapa bulan kemarin saya mengikuti kompetisi desain iklan yang diadakan kampus saya. Kompetisi desain ini bertemakan pengenalan jurusan kepada masyarakat luar atau target pasar. Tentunya dalam mengikuti kompetisi ini bagaimana saya akan mengkomunikasikan jurusan saya lewat pesan yang berupa visual.

Tema yang diambil dari lomba tersebut ialah You Are What You Comunicate. Artinya Diri kita ialah apa yang kita komunikasikan kepada dunia luar. Tentunya kalimat ini memiliki arti yang luas karena apa yang kita komunikasikan tidak hanya bersifat verbal tapi juga nonverbal. Selain itu soft skill yang dimiliki juga akan menjadi tolak ukur dari komunikasi itu sendiri.

Karena iklan yang dibuat haruslah benar-benar mengkomunikasikan jurusan saya maka dari visual yang akan saya buat haruslah berisi tentang poin-poin penting dari jurusan Ilmu komunikasi dikampus saya. antara lain :

1. Iklan menjelaskan secara visual apa itu komunikasi dan bidang dari ilmu komunikasi.
2. Dalam jurusan, tidak ada senioritas, semua perbedaan dan tingkatan bersatu dan saling melengkapi.
3. Menggambarkan kualitas dari SDM
4. Memberikan citra yang positif tentang jurusan

Setidaknya itulah poin yang pastikan dalam visual iklan yang lombakan. saya memastikan bahwa poin-poin diatas ada dalam iklan saya selain juga saya harus memasukkan kaidah-kaidah dasar periklanan, AIDDA, dsb dalam komunikasi iklan tersebut. dalam visual iklan buatan saya menggambarkan ada sekelompok mahasiswa yang berada beraksi didepan ‘kemasannya’ masing-masing sesuai dengan masing-masing bidang mahasiswa itu sendiri.

Mereka berkomunikasi secara non verbal seolah menunjukkan siapa diri mereka dan bidang apa yang mereka tekuni. saya mengibaratkan bahwa mahasiswa komunikasi — seperti mahasiswa jurusan lain pula — adalah “produk manusia” siap pakai dan kemasan ‘produk’ yang berada dibelakangnya merupakan identitas dari produk tersebut.

Nah kenapa SDM yang ada dalam visual berada diluar kemasan bukan didalam menggambarkan bahwa mahasiswa komunikasi kampus saya tidak sekedar ‘siap pakai’ yang menunggu rekruitmen, tapi juga secara aktif mereka terus berkarya dan berguna untuk orang sekitar.

Dalam tulisan dan gambar terdapat korelasi satu dengan yang lain. bagaimana suatu tulisan dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar dan bagaimana dalam suatu gambar dapat dijabarkan dalam bentuk tulisan. dari sisi promosi, keduanya dibutuhkan tergantung dari target yang akan dikomunikasikan dan kebutuhan promosi tersebut. masing masing terdapat kelebihan dan kelemahan juga saling mendukung.

Tulisan dapat efektif sebagai advertorial suatu produk yang menjelaskan secara rinci maupun data-data. sedangkan visual lebih kearah daya tarik kepada konsumen untuk lebih memperhatikan komunikasi yang akan disampaikan. bahkan saat ini kita kita tidak terlepas dari komunikasi berbentuk visual, jadi komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun pandangan, bukan hanya dapat terwujud dalam bentuk tulisan tapi juga melalui gambar.
jadi buat saya untuk lebih menarik minat seseorang, agar ‘mendengarkan’ komunikasi yang saya sampaikan, saya tak lepas dari komunikasi-komunikasi dalam bentuk visual – selain tentunya tulisan. minimal, visual yang ada menjadi pelengkap dan penarik minat untuk membaca artikel saya.

Saya juga berharap pengunjung Blog saya ini tidak hanya menganggap artikel itu hanya berupa tulisan saja, tetapi juga visual yang ada, karena tulisan maupun visual sama-sama berisi tentang informasi, pendapat, pandangan maupun argumentasi.





Perbedaan Jurnalis Media Cetak Dan Televisi

9 06 2009

Apa sih bedanya, kerja sebagai Jurnalis di Media Surat Kabar dan di Stasiun Televisi Siaran?

Media & Jurnalisme
Dalam prinsip jurnalistik yang diterapkan, secara garis besar sebenarnya tidak ada perbedaan. Kriteria layak berita di surat kabar dan di media televisi, relatif juga sama. Hanya, di media televisi ada penekanan lebih besar pada aspek visual (gambar). Hal yang bisa dipahami, karena televisi adalah media audio-visual.

Saya pernah dengar pengalaman dari dosen saya yang bekerja selama tujuh tahun di Harian Kompas (1988-1995), dan setelahnya bekerja di ANTV (sejak Februari 2002). Berdasarkan pengalaman pribadinya, perbedaan yang beliau rasakan — sebagai jurnalis di dua jenis media itu — justru pada aspek lain. Yaitu, lebih pada kejelasan porsi tanggung jawab dan peran kinerja, yang bisa berpengaruh langsung pada kemajuan atau kemunduran perusahaan media tempat dia bekerja. Juga, pada perbedaan peluang untuk “tampil” berkarya secara individual. untuk saat ini, beliau selain mengajar salah satu mata kuliah saya sebagi dosen tidak tepap, beliau buka usaha kecil-kecilan di rumahnya.

Di media cetak, seperti di harian Kompas, ia bisa menulis berita atau artikel dengan byline, mencantumkan namanya sendiri di tulisan tersebut. Meskipun setiap tulisan yang di muat itu sudah melalui proses penyuntingan oleh orang lain, baik dari segi bahasa atau pun content, tetapi ia tetap bisa mengklaim bahwa itu adalah tulisan karya “saya”. Bisa dibilang, 90 persen dari materi yang dimuat itu adalah karya saya.

Di media televisi, tampil secara individual itu sulit dilakukan, karena semua paket berita ataupun tayangan benar-benar dikerjakan secara kolektif. Untuk liputan berita pun minimal sudah harus dikerjakan berpasangan, oleh seorang reporter dengan seorang camera person. Walaupun, bisa juga dilakukan seorang diri sebagai VJ (video journalist).

Baca entri selengkapnya »





Jurnalistik Televisi

4 06 2009

Pengertian dan Aplikatif Jurnalsitik Televisi

Jurnalistik TV
Jurnalistik televisi merupakan paduan media komunikasi gambar (visual) dan suara (audio). Karena medium komunikasinya adalah gambar dan suara, dengan sendirinya terdapat perbedaan yang cukup tajam antara jurnalistik media cetak (print media) dan jurnalistik media radio (audio). Secara umum perbedaan itu terdapat pada :

1. Cara-cara pengumpulan data (news gathering) media televisi harus selalu on the spot. No pictures, no news. Dalam hal tertentu words must less than pictures. Implikasinya adalah pada kesempatan atau mobilitas kru televisi harus lebih tinggi dari media jenis lainnya untuk menjamin keseketikaan sebuah berita disajikan kepada penonton.

2. Penggunaan bahasa yang berbeda. Media televisi selalu menggunakan bahasa tutur, bahas lisan dengan segala implikasinya. Ada ahli yang menyebutnya sebagai bahasa gambar. Para broadcaster harus paham benar bahwa mereka menulis berdasarkan gambar, write to pictures, atau bertutur tentang gambar. Dan, seperti yang sering terjadi, bukan menempelkan gambar pada kata-kata yang lebih dulu ditulis.

3. Jika dalam waktu 2-3 tahun ke depan insan-insan televisei belum bisa menghasilkan video jurnalis yang multi skill dapat dipastikan tuntutan kerja tim di televisi jauh lebih berat daripada tuntutan kerja tim di media cetak maupun radio. Setidaknya, untuk mengejar satu atau dua berita televisi masih menuntut kerjasama harmonis antara reporter-camera person-dan driver. Tidak terbayangkan jika salah satu di antara ketiganya macet, ngambek, terlambat atau terganggu soal-soal teknis lainnya. Jika dirangkai dengan proses kerja berikutnya, hingga sampai ke layer, dapat dibayangkan, salah satu kerumitan terbesar dalam kerja televisi adalah mengelola tim yang benar-benar efektif. Salah satu dalil kerja di televisi adalah keberhasilan mengelola persiapan tim sudah menjadi jaminan 70 persen sukses siaran berita televisi.

Secara umum mekanisme kerja di sebuah news room televise sama dengan isi mekanisme kerja di sebuah media cetak maupun radio. Dengan sedikit varian yang berbeda antara satu news room dari news room lainnya, rangkaian kerja di televisi meliputi tiga aktivitas pokok. Pertama, aktivitas news gathering. Kedua, aktivitas news production, dan ketiga, aktivitas news presenting.

Satu hal yang memang sangat perlu ditekankan bahwa dalam mekanisme news gathering televisi perencanaan yang dilakukan oleh para assignment editors agak berbeda dengan perencanaan yang dilakukan oleh para koordinator reporter media cetak maupun radio misalnya.

Derivasi teknis yang sangat berbeda itu adalah bahwa ketika sebuah kru televise turun ke lapangan, assignment antara gambar dan berita haruslah sinkron. Ekstrimnya, seorang assisgment editor harus memerintahkan krunya lebih penting untuk segera mendapatkan gambar ketimbang talking newsnya. Karena itu pada ekstrim yang lain, ketika pulang dari lapangan, seorang produser/eksekutif produser televisi tidak akan menanyakan “berita apa yang akan dibawa oleh kru dari lapangan” tetapi “ gambar apa yang anda bawa dari lapangan ?” pertanyaan ini mengindikasikan betapa gambar jauh lebih penting nilainya bagi televisi daripada kata-kata. News Value Judgment nya sangat tergantung pada seberapa penting, seberapa menarik, seberapa dramatis, dan seberapa kuatnya magnitude gambar yang diperoleh kru di lapangan. Itu pula yang menjelaskan mengapa sebuah atau beberapa berita yang tampak diutamakan penayangannya oleh Televisi belum tentu diutamakan oleh media cetak atau sebaliknya.

Hal yang karakteristik televisi adalah News Productionnya yang harus menggunakan bahasa tutur, bahasa gambar, menuliskan tentang gambar dan atau melaporkan tentang gambar. Tentu saja penggunaan bahasa tutur ini sangat banyak Implikasinya, terutama karena harus benar-benar sinkron antar gambar dan kata-kata dan atau kalimat. Karena itu, adalah kewajiban seorang produser atau Reporter untuk ‘meneliti’ atau ‘mempreview’ gambar terlebih dahulu sebelum menulis naskah: bukan sebaliknya menulus naskah dulu lalu ditempel-tempel gambar.





Production Team

4 06 2009

Production Team

Tim produksi televisi terbagi layaknya unsur dalam sebuah organisasi yang memiliki perbedaan fungsi dan variasi pekerjaan. berikut team yang tergabung dalam produksi dalam Station TV.

Eksekutif Produser

Orang yang mengelola seluruh organisasi produksi (produser dan orang dibawahnya) serta hal administratif yang menyertainya , EP mengendalikan dan mengkoordinasikan aspek manajemen/bisnis produksi termasuk budget program/pendanaan bahkan juga terlibat dalam isu yang lebih menyeluruh dalam proses produksi seperti : konten kreatif, rundown, skrip.

Produser
Bertanggung jawab untuk mengelola proses produksi secara spesifik, concerned dengan pengelolaan staff dan kru produksi, koordinasi antar departemen, production scheduling, rencana produksi, memilih dan atau menginisiasi konsep program bersama kreatif/writer. bekerjasama dengan director pada eksekusi dan tetap bertanggung jawab terhadap hasil akhir program secara menyeluruh sampai proses editing (jika diperlukan).

Director
bertanggung jawab menterjemahkan semua aspek konten kreatif ke dalam bentuk audio dan visual sehingga bisa menjadi sebuah program yang dinikmati pemirsa.
Karena hal di atas, director bertanggung jawab memimpin tim lighting, audio, camera, dan floor director sehingga eksekusi program berjalan lancar.

Production Assistant
Pihak yang mengorganisasikan semua aspek teknis dalam proses produksi, menyiapkan proses rehearsal, berkordinasi dengan pihak terkait
Tak jarang PA juga membantu director mempersiapkan call shot untuk membantu director, mempersiapkan materi VTR, time coding dll

Baca entri selengkapnya »





Struktur Organisasi News

4 06 2009

Dalam dunia kerja, pastinya ada yang namanya struktur organisasi. baik itu di system pemerintahan dan dalam perusahaan lainnya. seperti hal nya yang ada dalam perusahaan tempat saya bekerja saat ini. Dalam department tempat saya bernaung juga ada system struktur organisasi. mulai dari level Kepala Department – Wakil Kepala Department – Kepala Seksi sampai dengan Staff terkait.

Diagram Struktur

Begitupun dalam pemberitaan, Struktur organisasi tersebut pasti ada. awalnya saya bingung saat di beri tugas oleh salah satu dosen saya dalam mata kuliahnya, untuk mencari dan membuat struktur organisasi dalam pemberitaan. karena saya sendiri bukan dari background broadcasting dalam dunia kerja saya sehari-hari.

Alkhasil sempat kelabakan juga saat harus mencari referensi dari beberapa teman yang kerja di stasiun TV, karena kebanyakan dari mereka adalah orang Produksi, bukan orang NEWS. Dan akhirnya, malam itu tiba-tiba sekitar pukul 22.30 WIB, Handphone saya berbunyi dan terdengar suara merdu dari si penelpon, tanya kabar dan ngobrol ngalor-ngidul soal segala sesuatu yang memang kami sudah lama tidak bicarakan karena jarak dan waktu yang memisahkan. kesibukan satu sama lainnya menjadi alasan kenapa kita sulit untuk bertemu.

Astaga… Lusiana Putri …..
Yesss!!! saking asiknya ngobrol, Saya melupakan satu hal, ternyata temenku ini adalah Lusiana Putri yang dulu sempet menjadi presenter berita di GLOBAL TV. dan saat ini dia mendedikasikan diri nya di TRANS7 sebagai Reporter lapangan.

Mmmmm… tanpa basa-basi saya pun langsung mencari informasi dan Flow Chart dari kerabat kerja yang terlibat dalam News. dan dari situ, saya bisa menarik kesimpulan dan akhirnya dapat mengumpulkan tugas dengan tepat waktu. Special Thanks To Lusiana Putri yang sudah banyak membantu saya dalam pembuatan salah satu tugas mata kuliah saya tersebut.

Dan ini adalah Flow Chart hasil dari rekapan saya sesuai dengan informasi yang saya peroleh dan pelajari dari lusiana putri.. semoga bermanfaat juga buat teman2 lainnya.
struktur organisasi news