Menulis Dalam Bentuk Visual

9 06 2009

pen_n_pad“Bagi saya komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun juga pandangan kita mengenai suatu hal, bukan hanya dapat terwujut dalam dalam bentuk tulisan tapi juga gambar”.

Beberapa bulan kemarin saya mengikuti kompetisi desain iklan yang diadakan kampus saya. Kompetisi desain ini bertemakan pengenalan jurusan kepada masyarakat luar atau target pasar. Tentunya dalam mengikuti kompetisi ini bagaimana saya akan mengkomunikasikan jurusan saya lewat pesan yang berupa visual.

Tema yang diambil dari lomba tersebut ialah You Are What You Comunicate. Artinya Diri kita ialah apa yang kita komunikasikan kepada dunia luar. Tentunya kalimat ini memiliki arti yang luas karena apa yang kita komunikasikan tidak hanya bersifat verbal tapi juga nonverbal. Selain itu soft skill yang dimiliki juga akan menjadi tolak ukur dari komunikasi itu sendiri.

Karena iklan yang dibuat haruslah benar-benar mengkomunikasikan jurusan saya maka dari visual yang akan saya buat haruslah berisi tentang poin-poin penting dari jurusan Ilmu komunikasi dikampus saya. antara lain :

1. Iklan menjelaskan secara visual apa itu komunikasi dan bidang dari ilmu komunikasi.
2. Dalam jurusan, tidak ada senioritas, semua perbedaan dan tingkatan bersatu dan saling melengkapi.
3. Menggambarkan kualitas dari SDM
4. Memberikan citra yang positif tentang jurusan

Setidaknya itulah poin yang pastikan dalam visual iklan yang lombakan. saya memastikan bahwa poin-poin diatas ada dalam iklan saya selain juga saya harus memasukkan kaidah-kaidah dasar periklanan, AIDDA, dsb dalam komunikasi iklan tersebut. dalam visual iklan buatan saya menggambarkan ada sekelompok mahasiswa yang berada beraksi didepan ‘kemasannya’ masing-masing sesuai dengan masing-masing bidang mahasiswa itu sendiri.

Mereka berkomunikasi secara non verbal seolah menunjukkan siapa diri mereka dan bidang apa yang mereka tekuni. saya mengibaratkan bahwa mahasiswa komunikasi — seperti mahasiswa jurusan lain pula — adalah “produk manusia” siap pakai dan kemasan ‘produk’ yang berada dibelakangnya merupakan identitas dari produk tersebut.

Nah kenapa SDM yang ada dalam visual berada diluar kemasan bukan didalam menggambarkan bahwa mahasiswa komunikasi kampus saya tidak sekedar ‘siap pakai’ yang menunggu rekruitmen, tapi juga secara aktif mereka terus berkarya dan berguna untuk orang sekitar.

Dalam tulisan dan gambar terdapat korelasi satu dengan yang lain. bagaimana suatu tulisan dapat divisualisasikan dalam bentuk gambar dan bagaimana dalam suatu gambar dapat dijabarkan dalam bentuk tulisan. dari sisi promosi, keduanya dibutuhkan tergantung dari target yang akan dikomunikasikan dan kebutuhan promosi tersebut. masing masing terdapat kelebihan dan kelemahan juga saling mendukung.

Tulisan dapat efektif sebagai advertorial suatu produk yang menjelaskan secara rinci maupun data-data. sedangkan visual lebih kearah daya tarik kepada konsumen untuk lebih memperhatikan komunikasi yang akan disampaikan. bahkan saat ini kita kita tidak terlepas dari komunikasi berbentuk visual, jadi komunikasi yang kita sampaikan, pendapat ataupun pandangan, bukan hanya dapat terwujud dalam bentuk tulisan tapi juga melalui gambar.
jadi buat saya untuk lebih menarik minat seseorang, agar ‘mendengarkan’ komunikasi yang saya sampaikan, saya tak lepas dari komunikasi-komunikasi dalam bentuk visual – selain tentunya tulisan. minimal, visual yang ada menjadi pelengkap dan penarik minat untuk membaca artikel saya.

Saya juga berharap pengunjung Blog saya ini tidak hanya menganggap artikel itu hanya berupa tulisan saja, tetapi juga visual yang ada, karena tulisan maupun visual sama-sama berisi tentang informasi, pendapat, pandangan maupun argumentasi.

Iklan




Perbedaan Jurnalis Media Cetak Dan Televisi

9 06 2009

Apa sih bedanya, kerja sebagai Jurnalis di Media Surat Kabar dan di Stasiun Televisi Siaran?

Media & Jurnalisme
Dalam prinsip jurnalistik yang diterapkan, secara garis besar sebenarnya tidak ada perbedaan. Kriteria layak berita di surat kabar dan di media televisi, relatif juga sama. Hanya, di media televisi ada penekanan lebih besar pada aspek visual (gambar). Hal yang bisa dipahami, karena televisi adalah media audio-visual.

Saya pernah dengar pengalaman dari dosen saya yang bekerja selama tujuh tahun di Harian Kompas (1988-1995), dan setelahnya bekerja di ANTV (sejak Februari 2002). Berdasarkan pengalaman pribadinya, perbedaan yang beliau rasakan — sebagai jurnalis di dua jenis media itu — justru pada aspek lain. Yaitu, lebih pada kejelasan porsi tanggung jawab dan peran kinerja, yang bisa berpengaruh langsung pada kemajuan atau kemunduran perusahaan media tempat dia bekerja. Juga, pada perbedaan peluang untuk “tampil” berkarya secara individual. untuk saat ini, beliau selain mengajar salah satu mata kuliah saya sebagi dosen tidak tepap, beliau buka usaha kecil-kecilan di rumahnya.

Di media cetak, seperti di harian Kompas, ia bisa menulis berita atau artikel dengan byline, mencantumkan namanya sendiri di tulisan tersebut. Meskipun setiap tulisan yang di muat itu sudah melalui proses penyuntingan oleh orang lain, baik dari segi bahasa atau pun content, tetapi ia tetap bisa mengklaim bahwa itu adalah tulisan karya “saya”. Bisa dibilang, 90 persen dari materi yang dimuat itu adalah karya saya.

Di media televisi, tampil secara individual itu sulit dilakukan, karena semua paket berita ataupun tayangan benar-benar dikerjakan secara kolektif. Untuk liputan berita pun minimal sudah harus dikerjakan berpasangan, oleh seorang reporter dengan seorang camera person. Walaupun, bisa juga dilakukan seorang diri sebagai VJ (video journalist).

Baca entri selengkapnya »