Esay Listening Formula

14 07 2009

formula

Dalam menulis naskah berita ada beberapa hal yang harus diketahui agar informasi yang ditulis sebagai bahan komentar penyiar atau reporter mudah dipahami oleh pemirsa. Karenanya terdapat pola “Easy Listening Formula”, yakni formula untuk memudahkan mendengar bagi pemirsa.

Formulasi Easy Listening

1. Alur informasi

– Susun laporan dalam alur menulis naskah menyesuaikan gambar atau gambar yang akan menyesuaikan naskah berita.

– Kedua pandangan itu sama benarnya, karena ada argumen yang melatari pandangan tersebut. Karena tv adalah media bergambar, sehingga gambar harus lebih dulu diprioritaskan.

– Sedangkan pendapat lain menyatakan, tugas utama dalam kaporan berita adalah menceritakan peristiwa dan gambar agar mendukung penggambaran peristiwa yang diuraikan di dalam narasi.

– Gambar adalah bahasa yang universal, namun diperlukan komentar agar gambar mudah dipahami.

– Kita bisa ambil contoh: tayangkan sebuah VT peristiwa tanpa narasi, ajak beberapa orang untuk melihatnya. Karena tak ada informasi penyerta, akan ada banyak komentar yang muncul usai melihat gambar tersebut.

– Karenanya gambar harus dilengkapi informasi tertulis yang dibacakan penyiar/ reporter.Namun sebaliknya, berita tanpa gambar akan mudah dipahami pemirsa.

– Walau kedua-duanya dapat ditempuh, sebagian jurnalis tv cenderung menceritakan gambar ketimbang menyesuaikan gambar dengan naskah.

– Namun untuk berita tertentu seperti peristiwa politik, terkadang naskah harus memiliki dimensi pendalaman yang lebih kuat dibandingkan gambar. Ini untuk menyiasati minimnya gambar.

– Apapun itu, dalam membuat sebuah berita tv, jurnalis dituntut tetap melakukan preview gambar dan melihat shotlist (daftar gambar) yang dimiliki atau diambil juru kamera.

– Saat menulis naskah dengan gambar yang disunting lebih dulu, dibutuhkan ketelitian mensinkronkan penempatan waktu dengan kata yang diucap jurnalis di layar. Shotlist dibutuhkan untuk memberikan ide agar memudahkan dalam penulisan naskah.

2. Pernyataan dan penjelasan (state & explain)

Dalam menulis, ingat selalu mengenai penggunaan state and explain yaitu pernyataan dan penjelasan. Artinya penulisan harus menjelaskan pernyataan agar dapat memudahkan pemirsa untuk mengingat informasi yang mereka peroleh dari siaran tv.

Contoh State & explain

“HARGA BEBERAPA BARANG POKOK KINI MULAI MERANGKAK NAIK// KENAIKAN TERSEBUT MERUPAKAN DAMPAK NAIKNYA GAJI PEGAWAI NEGERI YANG MULAI DIBERLAKUKAN PEMERINTAH BULAN DEPAN//”

Contoh Explain and State

“KARENA GAJI PEGAWAI NEGERI MULAI BULAN DEPAN NAIK/ MAKA HARGA BEBERAPA BARANG POKOK KINI MULAI MERANGKAK NAIK JUGA//”

3. Durasi shot gambar

– Berita tv dicerna pemirsa menggunakan dua inderanya, penglihatan dan pendengaran. Maka kedua aspek ini menjadi pegangan jurnalis tv.

– Terlalu banyak informasi baik berbentuk kalimat-kalimat untuk narasi maupun terlalu pendeknya shot gambar akan menyebabkan kebingungan pemirsa.

4. Jeda atau pause

– Berikan waktu yang cukup pada pemirsa agar dapat mencerna dan memahami gambar melalui penyediaan durasi shot gambar yang cukup. Pemirsa juga perlu memperoleh waktu yang cukup untuk mendengarkan komentar yang ditulis oleh reporter melalui tulisan yang tidak terlalu padat.

– Jangan melakukan pergantian gambar tiap satu detik atau dua detik, pemirsa akan kehilangan pemahaman dan tidak dapat mengerti tentang apa yang mereka lihat.

– Naskah juga jangan terlalu padat informasi, karena seolah pemirsa dijejali terlalu banyak informasi dan membuat bingung.

– Jika menulis berita cobalah menciptakan jeda atau waktu untuk istirahat sesaat. Berikan waktu untuk berhenti sesaat diantara kalimat dan berhenti sedikit lebih lama untuk perpindahan antara satu sequence gambar ke sequence gambar lainnya.

– Buat naskah yang memberi kesempatan pembaca berita menarik nafas. Naskah yang dibaca terburu-buru akan menyebabkan informasi tak bisa diterima pemirsa dengan baik.

– Sebaliknya, jika naskah disampaikan dengan lamban, akan menurunkan minat pemirsa melihat tayangan berita.

– Jeda harus dibuat proporsional, berimbang agar memudahkan pemirsa dan tetap membuat paket berita terjaga iramanya.

5. Penggunaan waktu.

– Selain jeda, penggunaan waktu dalam penyusunan naskah juga penting. Di awal, jika gambar cukup kuat jangan padati berita dengan naskah yang panjang. Berikan waktu yang cukup untuk explore gambar. Biarkan gambar berbicara. Narasi yang terlalu banyak hanya akan merusak irama, dan menurunkan tensi berita.

– Buatlah standar di awal berita dengan melepas gambar beberapa second, untuk memberi waktu pemirsa melihat gambar dan menyambungkan imaji mereka dengan lead yang dibacakan penyiar.

– Jika gambar muncul langsung suara dubbing jurnalis, pemirsa kadang mengalami kesulitan mencerna apa berita yang disampaikan.

– Sedangkan dalam penulisan, ada standar waktu yakni lima kata untuk 3 detik. Jika kurang, coba kurangi lagi jumlah suku katanya sehingga dapat memberikan tekanan kata pada hal-hal yang bersifat sangat penting.

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: