Rumus 5C Untuk Penulisan Berita TV

14 07 2009

rumus

MERENCANAKAN PROGRAM BERITA

Sebuah program berita tv memerlukan perencanaan. Dan sebagian besar program berita televisi diselesaikan dalam perencanaan. Berita atau features tidak bisa begitu saja diletakkan di segmen 1,2 atau 3 tanpa penjelasan dan alasan yang kuat.
Seorang jurnalis di newsroom harus memiliki rencana menyeluruh. Harus ada keseimbangan antara berita, laporan, komentar, hiburan dan iklan. Idealnya sebuah program harus terdiri dari beberapa bagian. Mungkin ada beberapa berita umum, nasional, lokal, internasional dan feature. Pembedaan atau rubrikasi dalam program berita ini dilakukan untuk memudahkan pemirsa mendapatkan berita sesuai keinginannya.
Kadangkala ada pemirsa yang menyenangi berita dengan topik tertentu, dan ia hanya melihat berita tersebut. Sementara di pihak lain ada pula pemirsa yang menyenangi berita ringan features, dan biasanya ia hanya melihat program berita di bagian akhirnya saja, karena feature biasa ditempatkan di akhir program.
Pembedaan jenis berita dalam sebuah program berita perlu dilakukan sesuai magnitude berita. Sebuah peristiwa penting akan ditempatkan di awal segmen, sementara berita ringan di akhir segmen. Pembedaan jenis berita, misalnya di segmen 1 berisi berita nasional, segmen 2 berisi berita politik, segmen 3 berita kota, dan segmen 4 berita feature atau berita ringan.

TUJUAN PEMBEDAAN SEGMEN

1 Menarik perhatian pemirsa yang berminat pada kategorisasi berita tertentu.
2 Untuk menandai berbagai berita sesuai tingkat kepentingan tertentu.
3 Untuk memberi ciri program sesuai misi stasiun tv.

HAL PENTING BAGI PEWARTA TV

1 Kebanyakan orang tidak duduk diam saat melihat televisi. Mereka bisa melakukannya sambil melakukan aktivitas lainnya, seperti makan, membaca koran, atau memasak.

2 Oleh karenanya, jurnalis tv harus menciptakan tayangan berita yang menarik dari sisi gambar, naskah, dan isu.

3 Jika tak memiliki gambar yang kuat, setidaknya jurnalis harus memperkuat berita dengan naskah yang dalam dan lengkap. Begitu juga jika gambar dan naskah tidak terlalu kuat, maka isu yang diketengahkan harus kuat, memancing perhatian banyak orang untuk menonton tv.

4 Bila anda menulis berita tv, berarti kita menulis untuk didengar dan ditonton. Para pemirsa bukanlah pembaca koran yang bisa membolak-balikkan halaman koran jika informasi yang dibacanya kurang jelas.

5 Pemirsa hanya diberi kesempatan melihat sekali. Jika ada yang terlewat, maka ia akan tertinggal isu yang ditampilkan.

6 Karenanya, naskah berita tv mengikuti susunan logika tertentu, jadi ada benang merah yang dapat diikuti oleh para pemirsa. Menulis berita tv mirip dengan bercerita atau curhat.

7 Menggunakan kalimat yang pendek
8 Menggunakan bahasa yang lugas dan jelas
9 Hindari kata-kata klise
10 Ulangi fakta-fakta yang rumit
11 Gunakan atribusi waktu yang tepat, untuk membantu menunjukkan kebaruan berita.
12 Sebutkan sumber informasi anda dan kutipan yang menyertainya. Bila menggunakan falta dan angka yang bukan hasil penelitian anda sendiri, sebutkan sumber penelitian itu.

13 Hindari kutipan langsung. Kutipan langsung bisa didengar/dilihat dari synch nara sumber.

14 Sederhanakan angka. Lebih baik menggunakan ”hampir dua juta rupiah” daripada menyebutkan angka Rp. 1.999.990.

15 Tulis angka dengan kata-kata karena mungkin penyiar tidak dapat membacanya ketika dia dalam tekanan di studio. Misalnya US$490,61 tampak mudah dibaca di koran. Untuk tv, lebih baik menuliskan ”empat ratus sembilan puluh koma enam puluh satu dolar amerika”

16 Sebutkan jabatan seseorang di depan namanya. Misalnya Presiden SBY, kapolri jenderal Sutanto, cawapres Jusuf Kalla.

17 Hindari singkatan dan akronim (Uni Eropa lebih baik daripada EU).
18 Konsisten dengan penyebutan jabatan dan istilah.
19 Ulangi jabatan, nama dan konsep.
20 Taruhlah angka statistik yang akan mudah basi di dalam badan cerita dan bukan di pengantar atau cue.

21 Bayangkan pemirsa dari kalangan terbawah. Kira-.kira apakah mereka mengerti isi laporan anda? Jika ternyata masih banyak pertanyaan yang membingungkan, segera ubah cara penulisannya.

RUMUS 5 C UNTUK PENULISAN BERITA TV

Conversational (Bersifat Percakapan)
Ketika menulis naskah berita untuk media televisi, kita menulis untuk didengar. Ingat, televisi adalah media audio-visual, bukan media cetak. Pemirsa kita melihat (gambar/visual) dan mendengar (suara/audio), bukan membaca naskah berita seperti membaca koran.
Kelemahan media televisi adalah berita yang ditayangkan di layar televisi umumnya hanya muncul satu kali. Jika pemirsa tidak bisa menangkap isi berita pada tayangan pertama, ia tak punya peluang untuk minta diulang. Kecuali mungkin untuk berita yang dianggap sangat penting, sehingga dari waktu ke waktu selalu diulang dan perkembangannya di-update oleh stasiun TV bersangkutan. Keterbatasan tersebut berlaku untuk media TV konvensional.

Untuk media televisi yang konvensional, sebuah tayangan berita tidak bisa disimak dan dibaca berulang-ulang seperti kita membaca koran. Pemirsa hanya punya satu kesempatan untuk menangkap isi berita Anda. Oleh karena itu, berita di TV dibuat dengan gaya bahasa bertutur, seperti percakapan sehari-hari, karena ini adalah gaya bahasa yang paling akrab dan biasa didengar orang.
Tulislah naskah berita seperti gaya orang berbicara.
Misalnya, dalam percakapan sehari-hari, kita amat jarang menggunakan kalimat yang berpanjang-panjang, atau memiliki anak-anak kalimat. Namun, meskipun berita di TV menggunakan gaya bahasa bertutur, tata bahasanya tetap harus benar.


Clear (Jelas)

Batasi kalimat untuk satu gagasan saja. Hal ini akan memudahkan para pendengar untuk menangkap dan memahami isi berita. Jangan menggunakan bahasa jargon atau slang, yang hanya dikenal kalangan tertentu. Hindari susunan kalimat yang rumit.

Atribusi untuk narasumber disampaikan lebih dulu sebelum pernyataannya, dan bukan sebaliknya. Hal ini untuk menghindarkan kebingungan di pihak pemirsa, dalam membedakan mana narasi dari si reporter dan mana opini dari si narasumber. Ini bertolak belakang dengan praktik yang biasa dilakukan di media cetak.
Jangan menggunakan terlalu banyak angka. Penyebutan angka-angka sulit ditangkap oleh pemirsa ketika mendengarkan berita. Buatlah angka itu mudah dimengerti. Jangan menempatkan angka di awal kalimat, karena bisa membingungkan.

Concise (Ringkas/ Singkat)

Gunakan kalimat-kalimat yang bersifat pernyataan (deklaratif).
Tulislah kalimat-kalimat yang pendek. Menurut hasil riset, kalimat pendek lebih mudah dipahami dan lebih kuat, ketimbang kalimat-kalimat panjang. Sebetulnya tidak ada aturan wajib tentang panjang kalimat yang dibolehkan. Namun, cobalah membatasi agar setiap kalimat yang Anda tulis tidak lebih dari 20 kata.

Compelling
Tulislah dalam bentuk kalimat aktif. Para penulis berita menggunakan kalimat aktif karena lebih kuat dan lebih menarik. Selain itu, kalimat aktif juga lebih pendek daripada kalimat pasif.

Cliche Free (Bebas Kata Klise)
Kalimat atau pernyataan klise adalah pernyataan yang sudah terlalu sering digunakan di media. Pernyataan klise mungkin tidak akurat dan salah arah, namun harus diakui, banyak reporter merasa sulit menghindari pernyataan klise seperti ini.

Contoh kalimat klise untuk penutup berita: “Kasus itu masih dalam penyelidikan.” Kalimat klise seperti ini bisa dibilang tidak memberi informasi tambahan apapun kepada pemirsa.
Maka, kalimat klise ini sebaiknya diganti dengan yang lebih informatif. Misalnya: “Polisi sampai hari ini masih belum mengetahui penyebab kecelakaan. Polisi mengharapkan, hasil penyidikan akan dapat diungkapkan hari Jumat besok. Reportase Trans TV akan melaporkan perkembangan ini besok untuk Anda.”

Aturan-aturan Dasar
Ada aturan-aturan dasar tertentu dalam penulisan berita untuk media televisi. Aturan ini bertujuan untuk membuat isi berita tersebut lebih mudah dipahami oleh pemirsa. Aturan ini juga akan membantu dan memudahkan presenter atau reporter di lapangan untuk membacakan berita tanpa kesalahan.

Angka
Dalam penulisan angka, sebutkan jelas angka dari “satu” sampai “sebelas”. Lebih dari “sebelas”, ditulis dalam bentuk angka: 12, 14, 25, dan seterusnya. Untuk uang senilai Rp 145.325,50 tulis saja “seratus empat puluh lima ribu rupiah” atau “145 ribu rupiah.”
Untuk menyebut tahun, sebut apa adanya, karena presenter akan dengan cepat memahami angka tahun. Misalnya: 1998, 2007, dan seterusnya.

Singkatan dan akronim

Tuliskan dengan jelas singkatan sebagaimana Anda ingin mendengarnya on air. Misalnya: ITB ditulis “I-T-B.”
Jika suatu akronim sudah cukup dikenal, biarkan seperti apa adanya di naskah. Misalnya: NATO, OPEC, BAKIN, dan sebagainya.
Namun, jika si reporter ragu pemirsa akan memahami singkatan atau akronim itu, gunakan saja kepanjangan lengkapnya. Hal itu lebih aman dan menghindarkan presenter dari kemungkinan membuat kekeliruan.

Punctuation (Tanda Baca)
Jangan gunakan punctuation dalam penulisan berita. Juga colon dan semicolon. Koma juga jarang digunakan dalam naskah untuk menandai jeda atau perubahan pemikiran. Presenter lebih suka menggunakan tiga titik (“…”) untuk menandai jeda, karena lebih mudah dibaca di alat TelePrompTer.

Nama
Selalu gunakan nama dan gelar secara sederhana dan bertutur. Jika Anda harus mengidentifikasi seseorang dengan gelarnya, tuliskan gelar itu di depan nama mereka, seperti ketika kita memberi atribusi. Kita bisa menambahkan informasi identifikasi lain, sesudah menyebut nama.

Spelling (Ejaan)

Salah menyebut kata atau salah mengeja bisa terjadi pada presenter. Itulah sebabnya, sebelum tampil di layar TV, mereka memang sebaiknya membaca dulu naskah beritanya. Namun, sering hal ini tak dilakukan karena berbagai sebab. Entah karena sekadar malas, atau berita memang ditulis dadakan. Untuk menghindari kekeliruan, reporter yang menulis berita perlu memberitahu presenter, tentang cara mengucapkan nama atau istilah tertentu yang tidak biasa.

Grammar/ tata bahasa
Tata bahasa yang buruk bisa berdampak jelek pada penampilan presenter. Maka, periksalah sekali lagi naskah berita, untuk menghindari tata bahasa yang buruk, sebelum naskah itu diserahkan ke presenter.

Lead yang menjual

Setiap berita harus dimulai dengan kalimat lead yang kuat. Lead yang paling efektif biasanya mengacu ke beberapa aspek dari berita, yang dianggap penting atau menarik bagi pemirsa. Aspek ini kita namai “hook.” Kenali aspek dalam berita itu yang akan memancing perhatian pemirsa dan gunakanlah pada kalimat lead. Lead semacam itu akan memelihara tingkat perhatian dari pemirsa TV.

Iklan

Aksi

Information




%d blogger menyukai ini: